FIND A DOCTOR
06 December 2017 | 00:00
Penanganan Kaki O (Genu Varus/ Bow Leg) di Mayapada Hospital
Penanganan Kaki O (Genu Varus/Bow Leg) di Mayapada Hospital oleh: Dr. Faisal Miraj, SpOT Orthopedi Anak, Pemanjangan dan Rekonstruksi Tungkai   Kaki O (genu varus / bow legs) adalah salah satu kelainan terbanyak pada tungkai anak-anak, dimana lutut tampak bengkok membentuk huruf O. Keadaan ini bisa merupakan keadaan yang normal terjadi pada anak dengan usia 2 tahun ke bawah. Namun seiring waktu pada usia 3-4 tahun menjadi semakin lurus, bahkan selanjutnya menjadi seperti huruf X (genu valgus), lalu kemudian berangsur lurus kembali di atas usia 6-7 tahun.Perubahan bentuk tungkai sesuai usia Perhatian lebih harus dilakukan pada keadaan-keadaan seperti sudut kelengkungan yang bertambah berat dan tidak menghilang saat usia di atas 2 tahun. Lutut tampak semakin bengkok dan anak  berjalan dengan gaya berjalan yang aneh bahkan sampai sulit berjalan karena nyeri.  Menurut dr. Faisal Miraj, SpOT, dokter spesialis orthopedi kami yang sering memangani kasus-kasus kelainan tulang, sendi dan otot pada anak-anak, keadaan ini sering terjadi pada anak-anak dengan kelebihan berat badan (obesity) dan terlalu cepat berjalan (early walking), selain juga karena penyebab lain seperti trauma, kelainan hormonal, maupun kelainan pertumbuhan dan perkembangan tulang. Pemeriksaan darah termasuk kadar hormonal, calcium dan Vit D3 dapat menyingkirkan penyebab-penyebab tersebut.    Pemeriksaan X ray termasuk long standing x ray diperlukan untuk menilai berat ringannya sudut kelengkungan sekaligus menemukan kelainan-kelainan tertentu pada tulang sendi terutama pada lempeng pertumbuhan sisi dalam bagian atas tungkai bawah dengan sudut MDA (metaphyseal diaphyseal angle) yang  menjadi parameter, kelainan ini disebut Blount Disease. Penanganan pasien yang dilakukan tergantung usia, tingkat keparahan dan sudut MDA tersebut. Anak-anak sampai 2 tahun biasanya diobservasi, karena masih memungkinkan suatu keadaan normal (physiologic bowing) yang dapat menghilang dengan sendirinya.Physiologic bowing   Usia 2-3 tahun biasanya tingkat keparahan masih pada tingkat awal, dan sudut MDA masih pertengahan (11°-16°). Penanganan pada saat itu adalah dengan menggunakan sepatu khusus atau brace (KAFO/Knee Ankle Foot Orthosis) yang dibuat sesuai dengan kondisi masing-masing pasien. Tujuan pemakaian KAFO tersebut adalah untuk mencegah progresifitas kelengkungan dan juga memperbaikinya. KAFO   Apabila dalam penanganan ini kelengkungan lutut dan tingkat keparahan bertambah serta sudut MDA juga bertambah di atas 11°, biasanya pasien sudah mencapai usia di atas 3 tahun, maka dipertimbangkan untuk melakukan operasi koreksi. Terdapat beberapa teknik operasi yang biasa kami lakukan, disesuaikan dengan tingkat keparahan dan besarnya kelengkungan serta kelainan anatomical lainnya. Semakin besar sudut kelengkungan atau semakin kompleks kelainan anatominya, maka semakin tinggi risiko atau kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi saat dilakukan operasi koreksi. Dalam keadaan ini disarankan menggunakan cara koreksi bertahap (gradual correction) setelah dilakukan pemotongan tulang (osteotomy) dengan external fixasi seperti ring external fixator (ilizarov), bisa secara konvensional maupun computerized. Keuntungan prosedur ini adalah operasi dilakukan melalui sayatan kecil (minimal invasive) sehingga kerusakan jaringan yang terjadi minimal sekali sehingga penyembuhan akan lebih mudah dan cepat. Koreksi yang dilakukan dapat lebih akurat bila menggunakan sistem komputerisasi (computerized ring external fixator), karena jadwal koreksi berkala didapatkan melalui proses analisa menggunakan software khusus. Selain itu pasien dapat langsung mobilisasi sendi lututnya dan berjalan sesuai  kemampuannya, disebabkan stabilitas yang maksimal dari ring external fixasi tersebut. Pasien menggunakannya kira-kira 8-12  minggu sampai tulang menyambung.     Gradual coorection dengan computerized ring external fixation Sedangkan dalam keadaan dimana saat operasi koreksi maupun setelahnya risiko dan komplikasi yang diperhitungkan kecil atau aman, maka dapat dipilih koreksi langsung (acute correction) dengan menggunakan ring external fixasi maupun internal fixasi. Prosedur yang menggunakan internal fixasi pasien dapat langsung menggerakkan sendi lututnya namun tidak boleh langsung membebani tungkainya melainkan setelah 8-12 minggu.Acute correction dengan internal fixasi Alternatif lain dapat dilakukan prosedur mengatur atau menghambat pertumbuhan (hemiephysiodesis) pada sisi luar lempeng pertumbuhan bagian atas tulang tungkai bawah, sehingga pertumbuhan menjadi lebih seimbang atau memberi kesempatan sisi dalam yang terganggu untuk tumbuh sampai kelengkungan terkoreksi. Prosedur ini dapat digunakan secara sendiri maupun bersama prosedur lain seperti yang telah diterangkan diatas. Setelah prosedur ini, pasien dapat langsung mobilisasi dan membebani tungkainya.Hemiepiphysodesis   Untuk konsultasi lebih lanjut harap hubungi COE Orthopedic Mayapada Hospital Jakarta Selatan 021-29217777 ext. 7219   dr. Faisal Miraj, SpOT Jam Praktek : Kamis  17.00 - 19.00 Sabtu  08.00 - 10.00
29 November 2017 | 14:00
Prevention and Control of Antimicrobial Resistance in Hospital
Prevention and Control of Antimicrobial Resistance in Hospital PPRA sesuai SNARS edisi I   Latar Belakang Resistensi mikroba terhadap antimikroba telah menjadi masalah kesehatan yang mendunia, dengan berbagai dampak merugikan yang dapat menurunkan mutu pelayanan kesehatan. Muncul dan berkembangnya resistensi antimikroba terjadi karena proses penggunaan antibiotik yang tidak tepat, dan penyebaran kuman resisten. Munculnya resistensi antibiotik ini dapat dihambat dengan menggunakan antibiotik secara bijak, sedangkan proses penyebaran dapat dihambat dengan cara mengendalikan infeksi secara optimal. Pelaksanaan dari pengendalian antimikroba dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi di masing-masing rumah sakit, sehingga diperoleh data resistensi antimikroba, data penggunaan antibiotik, dan pengendalian infeksi di Indonesia. Namun sampai sekarang gerakan pengendalian resistensi antimikroba di rumah sakit secara nasional belum berlangsung baik, terpadu, dan menyeluruh sebagaimana yang terjadi di banyak negara. Dalam rangka pelaksanaan PPRA di rumah sakit dan mensukseskan akreditasi KARS (SNARS ed.1) , maka dibutuhkan tenaga profesional yang mengerti dan memahami tentang pengendalian resistensi antimikroba di rumah sakit. Berdasarkan hal tersebut maka Komite PPI Mayapada Hospital Jakarta Selatan mengadakan seminar dengan tema "Prevention and Control of Antimicrobial Resistance in Hospital" Tujuan Pelatihan Terwujudnya pemahaman terhadap pentingnya pengendalian resistensi antimikroba di rumah sakit dan peserta mampu mengerti  Program Pengendalian Resistensi Antimikroba  sesuai dengan standar  KARS (SNARS edisi 1) Narasumber • DR. dr. Latre Buntaran, SpMK(K)
• dr. Djoni Darmadjaja, SpB, MARS, FINACS (KARS)
• dr. Frans J. V. Pangalila, SpPD, KIC
• dr. Eddy Multazam, SpFK
• dr. Caecilia Arimah, SpP
• Ns. Gortap Sitohang, S.Kep
• Ns. Dewi Ratna Sari, S.Kep. MM Biaya Seminar Rp. 500.000,- sudah termasuk:
• Sertifikat IDI / PPNI
• Doorprize
• Goodie Bag
• Makan Siang
• 2x Snack Pendaftaran  Meivi : 0813.8990.0960 (WA)
Catur : 0812.1346.0985 Pembayaran a/n PT. NIRMALA KENCANA MAS
No.Rek : 820-3000-0888
Bank Mayapada Cabang Mayapada Hospital Jakarta Selatan
CLIENT TESTIMONIAL
Tangerang
Jakarta Selatan