INI DIA BERBAGAI JENIS KERACUNAN MAKANAN...

14 July 2017  -  Made By : Mayapada Healthcare Group

Tahukah Anda bahwa berbagai jenis makanan yang Anda konsumsi dapat membuat Anda mengalami keracunan makanan? Apa sebenarnya keracunan makanan itu? Keracunan makanan merupakan suatu gangguan kesehatan yang terjadi akibat seseorang mengkonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh berbagai jenis bakteri, virus, parasit, atau racun yang dihasilkan oleh kuman tertentu.

Di bawah ini Anda dapat melihat makanan apa saja yang mungkin membuat Anda keracunan dan jenis kuman yang terdapat di dalamnya.

 

Buah dan Sayuran Mentah (Listeria, Salmonella, E.coli)

Listeria merupakan bakteri yang dapat mengkontaminasi berbagai jenis makanan segar seperti belewah dan makanan olahan seperti keju. Gejala yang biasa ditemukan adalah demam, nyeri otot, perut terasa tidak nyaman, atau diare. Gejala ini biasanya terjadi 2 hari sampai 2 bulan setelah paparan.

Selain listeria, berbagai jenis makanan segar dan mentah juga dapat terkontaminasi oleh salmonella. Beberapa jenis makanan yang telah diketahui dapat terkontaminasi oleh salmonella adalah tomat, cabai, sayuran mentah, dan pepaya.

Tauge tampaknya juga dapat terkontaminasi oleh salmonella karena sering dimakan mentah-mentah atau hanya ditumis sebentar. Infeksi dapat menimbulkan gejala yang berat atau bakan fatal pada orang yang memang memiliki resiko tinggi seperti bayi dan orang lanjut usia.

Buah dan sayuran mentah juga dapat terkontaminasi oleh E.coli melalui pupuk atau air yang digunakan untuk menyiram mengandung bakteri.

Untuk mencegahnya, pastikan Anda mencuci bersih buah dan sayuran mentah sebelum dimakan. Simpan di dalam kulkas dengan suhu kurang dari 4 derajat celcius. Bila memungkinkan, jangan mengkonsumsi sayuran mentah.

 

Susu dan Produknya yang Tidak Dipasteurisasi (Listeria)

Berbagai jenis produk susu yang dibuat dari susu mentah seperti yogurt dan keju lunak (brie, feta, dan queso) dapat terkontaminasi oleh listeria. Selain itu, karena listeria dapat tetap hidup pada suhu dingin, maka menyimpan berbagai jenis makanan di atas di dalam lemari pendingin biasanya juga tidak akan membunuh bakteri tersebut. Orang-orang yang beresiko tinggi terkena infeksi listeria adalah orang lanjut usia, wanita hamil, dan orang yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah.

Untuk mencegah infeksi, pastikan Anda memeriksa label makanan yang akan Anda beli dengan baik dan carilah kata telah melalui proses pasteurisasi (pasteurized).

 

Daging Olahan dan Sosis (Listeria)

Kadang-kadang, listeria juga dapat mengkontaminasi berbagai jenis makanan olahan dan dapat hidup selama bertahun-tahun di dalamnya. Memang benar bahwa panas dapat membunuh listeria, akan tetapi listeria dapat mengkontaminasi makanan setelah dimasak, tepat sebelum dikemas.

Untuk mencegahnya, jangan pernah menyimpan daging terlalu lama. Pastikan Anda memasak daging dan sosis hingga 74 derajat celcius sebelum dimakan.

 

Telur dan Daging Unggas (Salmonella)

Bakteri salmonella dapat mengkontaminasi berbagai jenis makanan, walaupun resikonya biasanya lebih besar pada berbagai jenis produk hewan karena lebih sering berkontak dengan kotoran hewan.

Pada ayam, salmonella dapat mengkontaminasi telur sebelum cangkangnya terbentuk, jadi walaupun terlihat bersih dan segar, telur dapat terkontaminasi oleh salmonella. Gejala yang biasa ditemukan adalah kram perut, demam, diare 12-72 jam setelah paparan. Penyakit biasanya berlangsung selama 4-7 hari.

Untuk mencegah infeksi salmonella, jangan pernah memakan telur mentah atau telur setengah matang.

 

Makanan Olahan (Salmonella)

Keripik kentang, biskuit, sup, selai kacang, dan bahkan makanan beku dapat terkontaminasi oleh salmonella. Untuk mencegah makanan terkontaminasi oleh salmonella, jangan mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang telah diketahui pernah terkontaminasi oleh salmonella dan selalu panaskan makanan hingga 74 derajat celcius sebelum dikonsumsi untuk membunuh bakteri salmonella.

 

Daging Mentah (Salmonella)

Daging mentah, khususnya daging giling memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terkontaminasi oleh salmonella. Selain itu, daging ayam kalkun juga telah diketahui berhubungan dengan infeksi salmonella. Anda tidak dapat membedakan makanan yang telah terkontaminasi dengan yang tidak karena makanan tersebut akan terlihat dan berbau normal.

Untuk mencegah kontaminasi salmonella, masaklah daging sapi, babi, dan domba setidaknya hingga suhu 63 derajat celcius. Untuk daging unggas, masaklah hingga suhu 74 derajat celcius. Untuk daging sapi cincang, babi cincang, dan domba cincang; masaklah hingga mencapai suhu 71 derajat celcius. Hindari kontaminasi silang dengan mencuci tangan dengan sabun dan air bersih setelah mengolah daging mentah.

 

Daging Sapi Giling (E.coli)

E.coli hidup di dalam usus hewan ternak dan dapat mengkontaminasi daging sapi selam proses pemotongan. Daging cincang sangat beresiko karena bakteri dapat menyebar saat daging digiling. Gejala keracunan yang biasa ditemukan adalah kram perut hebat, diare cair, dan muntah. Penyakit biasanya terjadi beberapa hari setelah paparan dan dapat menjadi sangat berat pada orang-orang yang rentan. Gejala biasanya berlangsung selama 1 minggu.

Untuk mencegah terinfeksi oleh E.coli, masaklah daging hingga mencapai suhu 71 derajat celcius (daging tidak berwarna merah muda di bagian tengahnya).

 

Jus Buah Mentah dan Susu (E.coli)

Pada proses pasteurisasi, bakteri dibunuh dengan cara dipanaskan. Karena sebagian besar jus buah yang dijual di supermarket telah melalui proses pasteurisasi ini, maka mereka biasanya tidak beresiko menyebabkan terjadinya keracunan makanan. Berbeda halnya dengan berbagai jenis jus buah yang dijual langsung setelah dibuat. Bakteri juga dapat masuk ke dalam susu mentah melalui penggunaan alat pemerah susu yang tidak higienis atau kotoran hewan.

Untuk menghindari resiko keracunan makanan, belilah jus buah dan susu yang telah melalui proses pasteurisasi.

 

Makanan Kalengan (Botulisme)

Botulisme merupakan penyakit yang langka dan mungkin fatal. Penyakit ini banyak berhubungan dengan makanan kalengan atau makanan yang diawetkan, terutama produksi rumahan. Beberapa jenis makanan yang beresiko tinggi menyebabkan terjadinya botulisme adalah madu, daging, dan ikan asin. Bayi memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menjadi sakit. Gejala yang biasa ditemukan adalah kram perut, muntah, gangguan napas, kesulitan menelan, penglihatan ganda, dan kelemahan atau bahkan kelumpuhan.

Untuk mencegah terjadinya botulisme, jangan pernah memberikan madu pada anak yang berusia kurang dari 12 bulan.

 

Makanan yang Dihangatkan Dalam Waktu Lama (C. perfringens)

Clostridium perfringens merupakan sejenis bakteri yang dapat menyebabkan terjadinya kram perut dan diare yang berlangsung kurang dari 24 jam. Sup, gravy, dan makanan lain yang dimasak dalam jumlah besar, yang dihangatkan dalam waktu yang lama sebelum disajikan merupakan sumber dari infeksi C. perfringens.

Untuk mencegahnya; masaklah saus, gravy, dan sup dengan baik dan simpanlah pada suhu di atas 60 derajat celcius atau kurang dari 5 derajat celcius. Sajikanlah makanan dalam kondisi panas tepat setelah dimasak dan simpan sisa makanan di lemari pendingin.

 

Roti Isi, Salad, Pastri (Staphylococcus)

Anda dapat tertular infeksi Staphylococcus dari makanan bila makanan tersebut disiapkan oleh seseorang yang telah terinfeksi oleh Staphylococcus. Beberapa makanan yang beresiko tinggi untuk menularkan staphylococcus adalah roti isi, salad (termasuk telur, tuna, ayam, kentang, dan macaroni), pastri berisi krim, dan pudding. Gejala biasa timbul dalam waktu 30 menit setelah infeksi. Gejala yang dapat ditemukan berupa muntah, kram perut, dan diare. Penyakit biasanya berlangsung selama 1-3 hari.

Untuk mencegah timbulnya infeksi, cucilah tangan dengan bersih sebelum menyiapkan makanan. Selain itu, jangan memasak bila Anda sedang sakit atau sedang mengalami infeksi hidung atau mata, luka terbuka, atau infeksi pada tangan atau pergelangan tangan.

 

Kurangnya Higienitas Saat Menyiapkan Makanan (Hepatitis A, Virus Norwalk)

Hepatitis A merupakan virus yang menyerang hati dan dapat menyebabkan demam, merasa amat sangat lelah, mual, penurunan berat badan, dan jaundice (kulit dan bagian putih mata berwarna kekuningan). Sebagian besar infeksi biasanya ringan. Hepatitis A dapat menular saat orang yang terinfeksi tidak mencuci tangannya dengan benar kemudian menyentuh makanan atau benda dan kemudian memasukkannya ke dalam mulut.

Untuk mencegah infeksi hepatitis A, terimalah vaksin hepatitis A. Selain itu, cucilah tangan dengan baik sebelum menyiapkan makanan.

Norovirus merupakan penyebab tersering dari flu perut. Gejala yang biasa ditemukan adalah muntah dan diare, yang biasanya terjadi dalam waktu 24-48 jam setelah paparan. Virus Norwalk dapat mengkontaminasi makanan saat orang yang terinfeksi tidak mencuci tangannya dengan benar setelah menggunakan toilet. Makanan seperti salad atau kerang dapat menyebabkan terjadinya keracunan makanan karena keduanya tidak dimasak sebelum dimakan.

Untuk mencegah terjadinya keracunan makanan, selalu cuci tangan Anda dengan sabun dan air bersih selama 30 detik setelah menggunakan toilet atau mengganti popok dan sebelum menyiapkan makanan.

 

Daging Unggas Setengah Matang (Campylobacter)

Setetes kaldu ayam mentah dapat menyebabkan infeksi Campylobacter. Gejala yang biasa ditemukan adalah demam, kram perut, diare, dan muntah. Sebagian besar penderita sembuh dalam waktu kurang dari 1 minggu, tetapi juga dapat menyebabkan terjadinya sindrom Guillain-Barre, suatu penyakit langka dan berat. Sindrom Guillain-Barre dapat terjadi dalam waktu beberapa minggu setelah diare dan menyebabkan kelumpuhan sementara.

Untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang; cucilah tangan, talenan, dan alat dapur dengan air bersih dan sabun setelah digunakan untuk menyiapkan daging unggas mentah.

 

Tiram Mentah (Vibrio vulnificus)

Vibrio vulnificus merupakan bakteri yang hidup di dalam air laut yang hangat dan dapat mengkontaminasi kerang, khususnya tiram. Infeksi bakteri ini dapat menyebabkan terjadinya berbagai gangguan pencernaan seperti halnya penyebab keracunan makanan lain, tetapi pada orang dengan daya tahan tubuh yang lemah, infeksi dapat menyebar ke dalam darah dan membahayakan jiwa penderita.

Untuk mencegah infeksi, jangan memakan kerang mentah. Selalu masak kerang sebelum dimakan dan buang kerang yang tidak terbuka saat dimasak.

 

Kerang (Racun Ganggangg)

Paralytic shellfish poison (PSP) merupakan sejenis racun yang dihasilkan oleh beberapa jenis ganggang. Saat ganggang berbunga, maka ia akan menghasilkan banyak racun dan kerang dapat terkontaminasi oleh racun ini. Gejala yang dapat ditemukan adalah kesemutan di daerah bibir dan lidah, mati rasa, kesulitan bernapas, dan akhirnya kelumpuhan. Kematian akibat PSP dapat terjadi dalam waktu 30 menit setelah paparan ekstrim. Untungnya, PSP sangat langka. Selain itu, kerang biasanya diperiksa terlebih dahulu sebelum dijual ke khalayak umum.

 

Ikan Tuna Mentah (Scombrotoxin)

Keracunan scombrotoxin merupakan reaksi alergi karena memakan ikan yang telah basi. Beberapa ikan yang telah diketahui berhubungan dengan scombrotoxin adalah ikan tuna, mackerel, amberjack, dan mahi-mahi.

Pada tahap awal basi, bakteri akan menghasilkan histamine di dalam ikan. Hal ini akan menyebabkan mulut terasa seperti terbakar, timbul bercak kemerahan yang gatal pada kulit, pusing, nyeri kepala, dan diare. Gejala biasanya akan mereda dalam waktu 4-6 jam. Pemberian obat antihistamin biasanya dapat membantu.

 

Ikan (Keracunan Ciguatera)

Keracunan makanann yang satu ini terjadi akibat mengkonsumsi ikan karang seperti kerapu atau snapper yang mengkonsumsi sejumlah ganggang latu. Gejala biasanya timbul dalam waktu 6 jam setelah paparan dan menimbulkan gejala berikut ini:

  • Rasa seperti terbakar atau kesemutan yang nyeri pada lengan atau kaki
  • Nyeri kepala
  • Mual dan muntah
  • Diare
  • Halusinasi
  • Temperatur yang berkebalikan (benda dingin terasa panas dan benda panas terasa dingin)

Hingga saat ini belum ada pengobatan yang dapat mengatasi keracunan ciguatera. Gejala biasa menghilang dengan sendirinya setelah beberapa hari atau beberapa minggu. Akan tetapi, gejala neurologis kadang dapat berlangsung selama beberapa tahun.

 

Kapan Perlu Hubungi Dokter?

Sebagian besar kasus keracunan makanan akan sembuh dengan sendirinya, akan tetapi segera hubungi dokter Anda bila Anda mengalami beberapa gejala di bawah ini, yaitu:

  • Demam tinggi
  • BAB darah
  • Muntah berkepanjangan
  • Diare yang berlangsung selama lebih dari 3 hari
  • Adanya tanda-tanda dehidrasi (mulut kering, pusing, jumlah air kemih berkurang)

 

Tips Menyiapkan Makanan Dengan Benar

Bagi Anda yang bekerja di rumah makan atau bertugas untuk menyiapkan makanan, ada beberapa tips yang dapat membantu Anda mencegah terjadinya kasus keracunan makanan seperti:

  • Cuci tangan dengan benar sebelum menyiapkan makanan
  • Cuci talenan dan alat dapur setelah berkontak dengan daging mentah
  • Cucilah daging atau sayuran dengan menggunakan air mengalir dan keringkan dengan tisu dapur
  • Buang daun luar dari selada atau kol
  • Masak daging sapi, unggas, dan telur hingga matang
  • Sajikan makanan panas dalam kondisi panas dan makanan dingin dalam kondisi dingin

 

Peringatan Penting Lainnya

Ada beberapa orang yang memiliki resiko tinggi untuk mengalami keracunan makanan atau mengalami gejala yang berat saat keracunan makanan seperti:

  • Wanita hamil
  • Orang lanjut usia
  • Anak kecil
  • Orang dengan daya tahan tubuh yang lemah

Untuk itu, dianjurkan agar mereka tidak mengkonsumsi daging dan telur mentah atau setengah matang, susu dan produknya yang tidak melalui proses pasteurisasi, daging olahan mentah, dan seafood mentah.

Sumber: www.dokter.id

 

Tangerang
Jakarta Selatan