NEWS
22 April 2017 | 16:00
Mengkonsumsi Pemanis Buatan Saat Hamil, Bolehkah?
Saat Anda hamil, pasti banyak sekali hal dan makanan yang tidak boleh Anda lakukan dan makan. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apakah boleh wanita hamil mengkonsumsi pemanis buatan? Apakah aman? Pemanis buatan merupakan suatu bahan yang berfungsi untuk memberikan rasa manis pada makanan. Pemanis buatan paling sering ditemukan pada minuman bersoda, permen, dan pastri. Sebenarnya ada 2 jenis pemanis buatan, yaitu nutritif (mengandung kalori) dan non nutritif (tidak mengandung kalori). Pemanis nutritif seperti gula pasir mengandung kalori "kosong". Pemanis jenis ini hanya mengandung sedikit vitamin atau mineral. Walaupun demikian, pemanis nutritif dianggap aman untuk dikonsumsi oleh ibu hamil. Akan tetapi, pada beberapa keadaan, misalnya diabetes gestasional, diabetes, dan resistensi insulin; ibu hamil dianjurkan untuk membatasi konsumsi pemanis nutritif. Beberapa contoh pemanis nutritif adalah sukrosa, dekstrosa, madu, gula jagung, fruktosa, dan maltosa. Gula alkohol juga merupakan salah satu pemanis nutritif, yang biasanya ada di dalam berbagai jenis makanan yang berlabel bebas gula. Beberapa jenis gula alkohol adalah sorbitol, xylitol, isomalt, mannitol, dan hydrogenated starch. Pemanis non nutritif biasanya hanya ditambahkan dalam jumlah yang sangat sedikit di dalam berbagai jenis makanan untuk memberikan rasa manis. Pemanis jenis ini biasanya digunakan untuk mengurangi jumlah kalori di dalam berbagai jenis makanan dan minuman. Akan tetapi, karena jumlah penelitian yang masih terbatas, hanya terdapat beberapa jenis pemanis non nutritif yang aman untuk dikonsumsi selama hamil. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa jenis pemanis non nutritif yang dianggap aman untuk dikonsumsi oleh para wanita hamil.   Rebaudioside A (Stevia) Rebaudioside A merupakan jenis pemanis non nutritif baru yang sering digunakan pada berbagai jenis minuman bersoda dan jus buah. BPOM Amerika menyatakan bahwa stevia aman untuk dikonsumsi selama hamil.   Kalium Acesulfame (Sunett) Pemanis jenis ini biasanya digunakan pada berbagai jenis makanan yang dipanggang, makanan penutup beku, gelatin bebas gula, pudding, dan berbagai jenis minuman. Kalium acesulfame telah dinyatakan cukup aman untuk dikonsumsi oleh para ibu hamil, tetapi hanya dalam jumlah sedang (tidak boleh berlebihan).   Aspartame (Equal Atau NutraSweet) Aspartame sering digunakan sebagai pemanis di dalam berbagai jenis minuman bersoda, gelatin, makanan penutup, pudding, sereal sarapan, berbagai jenis minuman, permen karet, berbagai produk susu, dan berbagai jenis makanan dan obat-obatan. Menurut BPOM Amerika, aspartame aman dikonsumsi selama hamil dan menyusui, akan tetapi tetap tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan. Akan tetapi, aspartame tidak boleh dikonsumsi oleh seseorang yang menderita PKU (fenilketonuria, suatu jenis gangguan metabolisme langka), gangguan hati langka atau oleh ibu hamil yang memiliki kadar fenilalanin yang tinggi di dalam darahnya. Hal ini dikarenakan fenilalanin merupakan salah satu komponen aspartame, di mana penderita PKU mungkin tidak dapat memetabolisme dengan baik.   Sukralosa (Splenda) Sukralosa merupakan pemanis non kalori yang dibuat dari gula. Sukralosa biasa digunakan di dalam berbagai jenis makanan yang dipanggang, berbagai jenis minuman yang tidak mengandung alkohol, permen karet, kopi, teh, permen, minyak, es krim, jus buah, pengganti gula, saus manis, toping, sirup. Sukralosa tidak mempengaruhi kada gula darah, tidak mengandung kalori, dan telah dinyatakan aman untuk dikonsumsi oleh ibu hamil dan menyusui. Menurut BPOM Amerika, sukralosa aman dikonsumsi oleh siapa saja, termasuk ibu hamil.     Sumber: www.dokter.id
21 April 2017 | 16:00
Apakah IUD (Spiral) Berbahaya Bagi Kesehatan???
Pernahkah Anda mendengar istilah spiral? Spiral atau IUD merupakan salah satu jenis alat kontrasepsi yang cukup banyak digunakan. Selain lebih praktis, IUD juga dapat mencegah kehamilan dalam waktu yang cukup lama, yaitu hingga 5-10 tahun. Pada IUD, dokter akan memasukkan suatu alat berbentuk T ke dalam rahim Anda melalui vagina. Ada 2 jeniss IUD, yaitu Paragard dan Mirena. Pada Paragard, bagian atas dari alat diselubungi oleh tembaga, yang akan mencegah terjadinya kehamilan hingga 10 tahun. Sementara itu, Mirena akan menggunakan progestin sintetik untuk mencegah terjadinya kehamilan selama 5 tahun. Berbeda dengan pil KB yang masih sering "gagal", IUD memiliki efektivitas hingga 99%. Walaupun sangat langka, komplikasi penggunaan IUD dapat terjadi. Di bawah ini Anda dapat melihat 3 jenis komplikasi IUD yang mungkin terjadi.   IUD Lepas Sendiri (kurang dari 10%) Karena IUD terletak di dalam rahim, maka rahim dapat menganggapnya sebagai benda asing dan "mengusirnya" keluar. Akan tetapi, hal ini hanya terjadi pada kurang dari 10% wanita yang menggunakan IUD. Oleh karena itu, dokter Anda mungkin akan meminta Anda untuk datang kembali setelah menstruasi Anda selesai atau 1 bulan kemudian untuk memastikan bahwa IUD telah terpasang dengan benar dan tidak terlepas dari dalam rahim. Saat rahim berusaha "mengusir" IUD dari dalamnya, maka Anda mungkin akan mengalami kram perut. Bila IUD Anda ternyata terlepas, segera hubungi dokter kandungan Anda dan gantilah alat kontrasepsi Anda hingga Anda siap memasang IUD kembali.   IUD Tersangkut di Dalam Rahim (kurang dari 1%) Yang dimaksud dengan tersangkut di sini adalah salah satu ujung dari IUD, tersangkut di dalam dinding rahim sehingga membuat IUD lebih sulit dilepaskan. Hal ini sangat jarang terjadi, yaitu hanya kurang dari 1%. Selain itu, walaupun tersangkut IUD tetap efektif mencegah kehamilan. Wanita yang mengalami hal ini biasanya tidak mengalami nyeri perut dan tidak menyadari IUDnya tersangkut di dalam rahim hingga sudah waktunya untuk melepaskan IUD tersebut. Untuk mengatasinya, dokter biasanya akan menggunakan bantuan USG dan memasukkan clamp ke dalam rahim untuk mengambil IUD secara langsung.   IUD Keluar dari Dalam Rahim (amat sangat jarang) Komplikasi yang lebih langka daripada kedua hal di atas adalah rahim mengalami perforasi (ada suatu lubang di dalam rahim), yang membuat IUD dapat keluar dari dalam rahim dan "berkeliaran" di dalam perut Anda. Berbeda dengan IUD tersangkut yang tidak menimbulkan gejala apapun, bocornya rahim biasanya akan membuat Anda mengalami nyeri perut atau rasa tidak nyaman di dalam perut. Karena IUD tidak lagi berada di dalam rahim, maka IUD tidak lagi dapat mencegah terjadinya kehamilan. Untuk memastikannya, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan foto rontgen perut. Untuk mengatasinya, diperlukan operasi laparoskopi untuk mengeluarkan IUD dari dalam perut.   Sumber: www.dokter.id
21 April 2017 | 11:00
Menjadi Orang Tua Bahaya Bagi Kesehatan Anda, Masa Sih???
Tahukah Anda bahwa mengurus anak, keluarga, dan bekerja ternyata tidak hanya membuat para wanita merasa stress dan lelah tetapi juga dapat membuat usia mereka menjadi lebih pendek? Hal inilah yang mendorong para peneliti di Harvard University untuk mencari tahu apa sebenarnya hubungan antara peran ganda tersebut dengan banyaknya wanita yang meninggal sebelum berusia 75 tahun. Pada penelitian ini, para peneliti menganalisis data riwayat pekerjaan, pernikahan, dan mengasuh anak dari sekitar 7.500 orang wanita di Amerika. Mereka kemudian menemukan bahwa resiko seorang wanita untuk meninggal di antara usia 55-75 tahun sangat bervariasi, tergantung pada riwayat pekerjaan, pernikahan, dan mengasuh anak. Wanita yang telah menikah dan memutuskan untuk kembali bekerja setelah merawat anaknya memiliki resiko kematian dini yang paling rendah, yaitu hanya sekitar 5%. Sementara itu, para ibu tunggal yang tidak pernah bekerja justru memiliki resiko kematian dini tertinggi, yaitu sekitar 12%. Resiko kematian dini pada wanita yang telah menikah tetapi tidak bekerja adalah kurang dari 7%, sedangkan bagi ibu tunggal yang bekerja, resiko kematian dini adalah sekitar 8%. Akan tetapi, para peneliti tidak menganalisis hubungan antara kematian dini pada wanita dengan berapa lama seorang wanita bekerja atau apakah mereka puas dengan kehidupannya di rumah. Para peneliti menemukan bahwa wanita yang hidup paling lama merupakan para wanita yang memiliki paling banyak dukungan dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Sumber: www.dokter.id
20 April 2017 | 16:00
Asam Urat Anda Tinggi? Kendalikan Dengan Makanan Ini!
Bila Anda merupakan seorang penderita gout, maka dokter Anda mungkin akan melarang Anda untuk mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang mengandung banyak purin. Akan tetapi, karena purin dapat ditemukan pada hampir semua jenis protein hewani dan nabati, maka apa sebenarnya makanan yang masih dapat dikonsumsi oleh para penderita gout? Gout sendiri merupakan salah satu jenis radang sendi, yang menyerang persendian dan menyebabkan nyeri dan pembengkakan pada persendian, terutama di sendi jari kaki dan jari tangan. Kadangkala, gout juga dapat mengenai sendi pergelangan tangan, siku, lutut, dan pergelangan kaki. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa contoh makanan yang masih boleh dikonsumsi oleh para penderita gout karena hanya mengandung sedikit purin.   Roti Putih, Pasta, dan Mie Karbohidrat sederhana aman untuk dikonsumsi oleh para penderita gout karena hanya mengandung sedikit purin. Akan tetapi, terlalu banyak mengkonsumsi karbohidrat sederhana dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah, meningkatkan resiko terjadinya sindrom metabolik, dan diabetes. Sebenarnya roti gandum dan pasta yang terbuat dari gandum utuh memang lebih sehat dibandingkan dengan karbohidrat sederhana, akan tetapi karena keduanya mengandung cukup banyak purin, maka keduanya hanya boleh dikonsumsi sesekali.   Kacang-kacangan dan Biji-bijian Mengkonsumsi 2 sendok makan kacang-kacangan dan biji-bijian merupakan bagian dari menu sehat untuk penderita gout. Beberapa jenis kacang dan biji-bijian yang hanya mengandung sedikit purin adalah kacang walnut, kacang almond, flaxseed, dan kacang mede.   Berbagai Produk Susu Susu rendah lemak dan yogurt rendah lemak merupakan makanan yang sangat baik bagi penderita gout karena keduanya hanya mengandung sedikit purin. Selain itu, keduanya juga dapat menurunkan resiko terjadinya gout. Telur Telur memang mengandung sedikit purin. Akan tetapi, dianjurkan agar Anda membatasi konsumsinya hanya sebanyak 2-3 kali seminggu karena telur mengandung banyak kolesterol.   Ikan Asam lemak esensial yang terdapat di dalam ikan seperti ikan tuna dapat mengurangi proses radang akibat gout. Akan tetapi, untuk mencegah terjadinya serangan gout, batasi konsumsi ikan Anda, yaitu hanya 1 porsi sehari, karena ikan tuna juga mengandung purin.   Sayuran Konsumsilah banyak sayuran seperti kalian, kol, paprika merah, dan bit. Akan tetapi, batasi konsumsi beberapa jenis sayuran yang mengandung cukup banyak purin seperti asparagus, bayam, kembang kol, dan jamur.   Buah-buahan Konsumsilah berbagai jenis buah yang mengandung banyak vitamin C seperti jeruk, pepaya, dan ceri. Selain itu, beberapa jenis buah lainnya seperti apel, pir, nanas, dan alpukat juga hanya mengandung sedikit purin, jadi boleh dikonsumsi (tetapi tidak boleh secara berlebihan).   Air Putih Konsumsilah setidaknya 8 gelas air putih setiap harinya, kecuali bila Anda memang dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi terlalu banyak air putih karena alasan kesehatan.   Kopi dan Teh Kopi dan teh aman dikonsumsi oleh para penderita gout. Sumber: www.doker.id
19 April 2017 | 16:00
Selalu Ingin Bertambah Kurus??? Hati-hati Anoreksia!!
Anoreksia nervosa merupakan gangguan makan yang membuat penderitanya sangat terobsesi untuk menjadi kurus. Gangguan makan ini memang lebih sering ditemukan pada wanita, tetapi juga dapat terjadi pada pria, walaupun agak jarang. Bagaimana cara mengetahui apakah Anda atau seseorang menderita anoreksia? Di bawah ini Anda dapat melihat kriteria anoreksia nervosa berdasarkan the Diagnostic and Statistical Manual of Disorders (DSM-IV), seperti: Berat badannya kurang bila dibandingkan dengan berat badan seseorang pada usia dan tinggi badannya Sangat takut akan peningkatan berat badan atau pun menjadi gemuk, walaupun berat badan mereka sebenarnya sudah kurang Terus memikirkan ukuran dan bentuk tubuhnya Sangat terpengaruh (secara tidak wajar) pada bentuk atau berat badannya saat menilai dirinya sendiri Tidak mendapat menstruasi selama 3 bulan berturut-turut (wanita) Pada anoreksia nervosa, penderita tidak hanya mengalami gangguan fisik, tetapi juga gangguan psikologis, sehingga penanganannya pun sedikit berbeda. Diperlukan kerja sama dari beberapa tenaga kesehatan untuk mengatasi gangguan fisik dan emosional yang dialami oleh penderita. Walaupun tampaknya tidak terlalu berbahaya, akan tetapi anoreksia nervosa juga dapat menyebabkan kematian, bahkan yang paling tinggi di antara berbagai gangguan psikologis lainnya, yaitu antara 5-15%. Penyebab dan Pemicu Anoreksia Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya anoreksia nervosa seperti: Riwayat keluarga Kepribadian seseorang, misalnya perfeksionis dan tidak percaya diri Faktor lingkungan Selain itu, berbagai tayangan televisi yang terus menyatakan bahwa wanita langsing adalah wanita yang cantik membuat banyak wanita, termasuk anak-anak mempercayai bahwa bila mereka tidak langsing maka mereka tidak cantik. Berdasarkan pada sebuah penelitian yang dilakukan di Singapura, terdapat beberapa hal lain yang juga dapat memicu terjadinya anoreksia seperti sering diejek karena berat badannya atau karena stress dengan masalah di tempat kerja atau pun sekolah. Para peneliti juga menemukan bahwa rata-rata penderita anoreksia mulai menunjukkan gejala-gejala anoreksia saat mereka berusia 15.5 tahun, di mana sekitar 25.4% di antaranya juga menderita depresi. Pengobatan sedini mungkin telah terbukti cukup efektif untuk mengatasi anoreksia, di mana penderita dapat sembuh dan menjaga berat badannya tetap dalam batas normal. Bila tidak diobati, maka anoreksia dapat menyebabkan terjadinya berbagai gangguan kesehatan seperti osteoporosis, gangguan jantung, gangguan hati, dan gangguan ginjal. Selain itu, anoreksia juga dapat menyebabkan perubahan pada otak, yang dapat mempengaruhi prestasi belajar di sekolah atau pun di tempat kerja. Penderita dianjurkan untuk dirawat di rumah sakit bila mengalami beberapa hal di bawah ini, yaitu: Mengalami malnutrisi berat Denyut jantung lambat Tekanan darah rendah Jika seluruh pengobatan rawat jalan gagal Sumber: www.dokter.id
18 April 2017 | 16:00
Main Buat Berat Badan Turun, Masa Sih?
sebuah penelitian kecil yang dilakukan oleh the University of Exeter, Inggris, bermain sebuah permainan komputer mungkin dapat membantu sejumlah orang mengendalikan kebiasaan mereka mengkonsumsi berbagai jenis cemilan tidak sehat. Pada permainan tersebut, otak para peserta penelitian "dilatih" untuk mengurangi jumlah konsumsi kalorinya dengan cara para peserta diminta untuk tidak menekan tombol saat melihat beberapa gambar tertentu seperti biskuit dan cokelat. Peserta diminta untuk bermain selama 10 menit, 4 kali seminggu. Dari 41 orang peserta penelitian (semuanya orang dewasa), sebagian besarnya memiliki berat badan berlebih dan semuanya mengaku sering mengkonsumsi berbagai jenis cemilan yang mengandung banyak kalori seperti keripik kentang, biskuit, kue, dan coklat; setidaknya 3 kali seminggu. Pada penelitian ini, para peneliti melakukan "latihan otak" pada para peserta untuk mengubah perilakunya, yaitu menahan godaan terhadap berbagai jenis cemilan tidak sehat. Peserta diminta untuk tidak menekan tombol saat ada makanan tidak sehat muncul di layar komputer. Dengan demikian, otak para peserta pun "dilatih" untuk "berhenti" saat melihat makanan tidak sehat. Hasilnya, para peserta pun tampak mengalami penurunan berat badan (sekitar 0.7 kg) dan mengkonsumsi lebih sedikit kalori (220 kalori lebih sedikit) setiap harinya hingga 6 bulan kemudian (setelah "latihan otak" dimulai). Walaupun demikian, para peneliti mengatakan masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut dengan jumlah peserta penelitian yang lebih banyak untuk memastikan efek jangka panjang dari "latihan otak" dengan menggunakan permainan komputer tersebut. Sumber: www.dokter.id
18 April 2017 | 11:00
Ini Dia Minuman yang Dapat Menurunkan Resiko Parkinson!!
  Saat Anda sedang berusaha untuk mengobati suatu penyakit, maka langkah awal pasti adalah pemberian obat-obatan. Akan tetapi, pada sebuah penelitian baru yang dilakukan oleh the National Neuroscience Institute (NNI), Singapura, para peneliti menemukan bahwa salah satu jenis teh, yaitu teh hitam, mungkin dapat menjadi pengganti obat! Para peneliti menemukan bahwa orang yang mengkonsumsi 23 gelas teh hitam setiap bulannya, memiliki resiko menderita penyakit Parkinson yang lebih rendah, yaitu hingga 71% lebih rendah. Para ahli menduga hal ini dikarenakan teh hitam mengandung suatu zat pelindung saraf yang berfungsi untuk mencegah terjadinya penyakit Parkinson. Penyakit Parkinson sendiri merupakan suatu gangguan saraf degeneratif yang menyebabkan penderitanya mengalami gangguan dalam pergerakan dan keseimbangannya. Penyakit Parkinson biasanya mengenai pria dan wanita usia paruh baya. Penelitian yang melibatkan sekitar 63.000 orang pria dan wanita yang berusia di antara 45-74 tahun ini menyimpulkan bahwa bukan kafein yang terdapat di dalam teh yang dapat menurunkan resiko terjadinya penyakit Parkinson pada seseorang. Hingga saat ini, para peneliti masih mencari tahu apa zat yang sebenarnya dapat menurunkan resiko terjadinya Parkinson yang terdapat di dalam teh, khususnya teh hitam. Walaupun demikian, para peneliti tetap tidak menganjurkan seseorang untuk mengkonsumsi teh secara berlebihan karena segala sesuatu yang berlebihan tidak pernah berakibat baik. Hal penting yang perlu Anda ingat adalah ketahui batasan Anda, lakukan gaya hidup sehat, makan dengan bijaksana, dan berkonsultasilah dengan dokter Anda mengenai keadaan kesehatan Anda.   Sumber: www.dokter.id
17 April 2017 | 16:00
Masih Perawan Atau Tidak???
dara atau yang dikenal juga dengan nama himen, merupakan suatu jaringan mukosa yang terletak 1-2 cm di dalam vagina. Setiap wanita memiliki selaput dara yang berbeda-beda, baik dalam hal bentuk, warna, maupun ukurannya. Selaput dara merupakan suatu jaringan mukosa tipis yang berwarna agak merah muda, bahkan hampir transparan. Akan tetapi, pada beberapa orang jaringan mukosa ini dapat lebih tebal sehingga berwarna lebih pucat atau putih. Sebagian besar selaput dara bersifat elastis. Kadangkala, walaupun amat sangat jarang, jaringan mukosa yang membentuk selaput dara menutupi seluruh lubang vagina, sehingga darah menstruasi pun tidak dapat dikeluarkan dan membuat penderita merasa sangat kesakitan. Untuk mengatasinya, biasanya Anda harus berkunjung ke seorang dokter spesialis kandungan. Dokter akan sedikit "merobek" selaput dara Anda sehingga darah menstruasi pun dapat keluar. Salah satu hal yang dapat menyebabkan perubahan pada bentuk dan elastisitas selaput dara Anda adalah proses persalinan. Setelah persalinan, selaput dara biasanya akan menjadi lebih lembut atau menjadi sangat kendor sehingga lebih sulut dilihat. Hingga saat ini para ahli masih tidak mengetahui apa sebenarnya fungsi dari selaput dara pada wanita, akan tetapi mereka menduga selaput dara merupakan sisa dari pertumbuhan pada waktu janin. Bagaimana cara mengetahui apakah seorang wanita pernah berhubungan intim atau tidak? Sayangnya, seperti halnya pria, tidak ada cara pasti yang dapat membedakan seorang wanita yang pernah berhubungan intim dengan yang belum pernah berhubungan intim. Apakah Menjahit Kembali Selaput Dara Cukup Efektif? Walaupun memang dapat membuat selaput dara menjadi lebih "rapat", akan tetapi prosedur ini tidak dapat memastikan apakah Anda nantinya akan berdarah saat berhubungan intim pertama kali. Selain itu, prosedur ini dapat diketahui bila Anda diminta untuk menjalani pemeriksaan ginekologis terlebih dahulu sebelum menikah. Pada beberapa kasus, jahitan juga dapat terlepas segera setelah pasien meninggalkan rumah sakit. Jadi, tindakan ini sebenarnya lebih menolong pasien dari sisi psikologis daripada fisiknya. Sumber: www.dokter.id
Tangerang
Jakarta Selatan