FIND A DOCTOR
31 March 2020 | 15:00
Mengenal Lebih Jauh MRI
Sesuai dengan namanya, MRI (Magnetic Resonance Imaging) merupakan bagian dari pemeriksaan radiologi yang memanfaatkan medan magnet kuat, gelombang radio serta aplikasi komputer untuk mengolah gambar struktur potongan bagian dalam tubuh secara lebih detail dan jelas. Sehingga diagnosis yang dilakukan dokter akan lebih akurat dibandingkan dengan perangkat yang lain. Melalui perangkat MRI, dokter akan dapat mendeteksi secara lebih jauh potensi terjadinya masalah atau kondisi abnormal pada berbagai bagian tubuh, sebab hasil pemindaian dengan MRI dapat memberikan gambaran perbedaan antara jaringan tubuh yang sehat dengan yang sakit. Selain itu, MRI dapat memindai secara lebih rinci antara lain jaringan dan struktur otak, tulang belakang, bagian persendian (lutut, bahu, pinggul, siku, juga pergelangan kaki dan tangan), juga bagian-bagian jaringan lunak yang lain seperti bagian abdomen, pelvis, payudara, hingga pembuluh darah. Sudah tentu, dengan hasil pemindaian yang sempurna, dokter akan segera bisa mengetahui diagnosis secara lebih tepat. Mengapa harus MRI? Karena prosedurnya tergolong non invasif dan tidak menggunakan paparan radiasi pengion. Biasanya, MRI direkomendasikan untuk diagnosis dan evaluasi dalam kasus tumor atau kanker, penyakit pembuluh darah serta kelainan pada bagian otot dan tulang. Tingkat keamanan pemeriksaan MRI juga tergolong tinggi bila dibandingkan dengan perangkat berbasis radiasi pengion yang digunakan dalam pemeriksaan rontgen atau CT-scan biasa. Prosedur pemeriksaan Meski menggunakan medan magnetik yang sangat kuat, pemeriksaan dengan MRI tergolong tanpa risiko selama pasien mematuhi panduan keamanan yang ada, misalnya melepaskan semua aksesori berbahan logam. Sebelum pemeriksaan MRI dengan kontras, Anda akan diberi suntikan bahan kontras yang mengandung gadolinium untuk memudahkan deteksi kondisi penyakit. Selama pemeriksaan, Anda akan didampingi oleh perawat, radiografer dan dokter radiologi untuk memastikan pemeriksaan berjalan lancar dan aman. Sehingga bila terjadi reaksi alergi, petugas yang kompeten akan segera melakukan pengobatan. Satu hal lagi yang menjadikan pemeriksaan MRI lebih nyaman, adalah tidak adanya rasa sakit selama pemeriksaan. Anda hanya akan masuk ke dalam sebuah ruang pemindaian selama beberapa waktu dalam posisi berbaring dan harus tetap diam total selama pemindaian berlangsung. Tentu saja, bagi mereka yang mengidap klaustrofobia (rasa takut dalam ruang sempit), hal ini membutuhkan persiapan mental tersendiri. Khusus untuk kasus seperti ini, biasanya dokter anestesi akan memberikan sedatif atau penenang agar pasien tidak terlalu gelisah dan mendampingi pasien selama pemeriksaan. Selama pemeriksaan, biasanya Anda akan merasa tubuh menjadi sedikit hangat, kemudian Anda akan mendengar suara ketukan keras di dalam ruang pemindaian, sebagai tanda bahwa proses pemindaian sedang berlangsung. Bagi Anda yang risih dengan suara keras, petugas akan menyediakan headphone atau penyumbat telinga sehingga Anda lebih nyaman selama pemeriksaan. Anda juga diperbolehkan untuk mendengarkan musik selama pemeriksaan, agar lebih relaks. Siapa saja yang boleh periksa MRI dengan kontras? Pemeriksaan MRI dengan kontras pada dasarnya boleh dilakukan oleh siapa saja dengan fungsi ginjal yang baik. Bagi para ibu yang sedang menyusui, biasanya akan direkomendasikan untuk menghentikan aktivitas menyusui selama 24-48 jam setelah pemberian bahan kontras. Meski begitu, berdasarkan rekomendasi dari American College of Radiology (ACR) dan the European Society of Urogenital Radiology, pemberian ASI masih diperbolehkan pasca pemberian bahan kontras dan aman bagi bayi. Reaksi yang mungkin terjadi pada pemberian kontras Rasa tidak nyaman saat proses injeksi. Dalam beberapa kondisi, pasien akan merasakan rasa metalik atau logam di dalam mulut setelah pemberian bahan kontras. Rasa ini hanya bersifat sementara, jadi tidak perlu dikhawatirkan. Terdapat laporan minor bahwa beberapa pasien merasa mual, pusing, atau muncul ruam atau iritasi pada titik suntikan. Segeralah berkonsultasi dengan dokter ahli di Mayapada Hospital untuk mendapatkan rekomendasi terbaik dalam pemeriksaan kesehatan. Artikel ini pernah dimuat di majalah Health Insights Vol 8
26 March 2020 | 11:00
Penyebab dan Pencegahan Gangguan Pendengaran
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan data yang cukup mengejutkan mengenai gangguan pendengaran. Dalam situs resminya, ada sekitar 466 juta orang di dunia mengalami gangguan pendengaran, dan 34 juta di antaranya anak-anak. Gangguan pendengaran adalah seseorang yang tidak dapat mendengarkan suara secara normal. Gangguan pendengaran manusia bisa ringan, sedang dan berat, yang menyebabkan kesulitan dalam mendengarkan pembicaraan atau suara keras. Penyebab gangguan pendengaran ada 2: Gangguan pendengaran bawaan
Gangguan pendengaran yang didapat karena faktor genetik atau komplikasi tertentu selama kehamilan dan persalinan. "Pada anak-anak atau bayi, jika gangguan pendengaran tidak ditangani akan berdampak tuli permanen, dan tidak bisa bicara dalam perkembangannya," ujar dr. Tina Qadarina SpTHT-KL, Dokter Spesialis THT di Mayapada Hospital Jakarta Selatan. Gangguan pendengaran didapat
Berikut sejumlah contoh seseorang mengalami gangguan pendengaran didapat: Penumpukan kotoran di telinga Mengalami penyakit menular seperti meningitis, campak, dan gondongan Infeksi telinga kronis Cedera di kepala atau telinga Proses degenerasi karena faktor usia Akibat suara bising seperti dari penggunaan perangkat audio pribadi dengan volume tinggi secara terus menerus   Pencegahan Gangguan Pendengaran
Menurut WHO, setengah dari gangguan pendengaran dapat dicegah dengan tindakan kesehatan masyarakat. Terlebih pada anak-anak di bawah 15 tahun, penyebab ganguan pendengaran dapat dicegah dengan cara: Imunisasi anak untuk melawan penyakit seperti campak, meningitis, rubella dan gondongan Imunisasi terhadap remaja perempuan dan wanita usia reproduksi untuk mencegah rubella sebelum kehamilan Rutin melakukan pemeriksaan kesehatan telinga 6 bulan sekali (Daftar dokter spesialis THT) Mengurangi paparan suara keras yang berisiko merusak fungsi telinga Menghindari obat-obat tertentu yang dapat membahayakan pendengaran. Selalu konsultasi dengan dokter mengenai penggunaan obat
23 March 2020 | 14:30
Panduan WHO dalam Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi COVID-19
Jumlah kasus pendemi Virus Corona atau COVID-19 di Indonesia terus bertambah setiap hari. Pemberitaan media massa dan banyaknya pesan beredar tentang COVID-19 di situs jaringan pertemanan kian menambah kecemasan masyarakat.  Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun kemudian mengeluarkan panduan pertimbangan kesehatan mental selama adanya pandemi COVID-19. Dalam edaran itu, berikut sejumlah saran untuk menjaga kondisi psikologis masyarakat umum selama COVID -19 berlangsung. Bersikap empati kepada yang terpapar
COVID-19 telah mewabah di sejumlah negara dengan latar belakang etnis yang berbeda. WHO meminta untuk tidak melekatkan stigma pada etnis dan negara tertentu mengenai pandemi ini. Maka itu, berempatilah kepada orang yang terpapar dari negara manapun. "Orang yang terpapar COVID-19 tidak melakukan kesalahan apa pun, dan mereka pantas mendapat dukungan, belas kasih dan kebaikan," tulis WHO di situs resminya. Baca juga: 6 Langkah Meningkatkan Imunitas Tubuh agar Tidak Mudah Terserang Virus   Penyebutan pasien COVID-19 WHO meminta penyebutan pasien yang terpapar COVID-19 dengan sebutan "orang dengan COVID-19"  atau "orang yang sedang dirawat karena COVID-19". Jangan melabeli pasien dengan "kasus COVID-19", "korban", atau "keluarga COVID-19." Kehidupan mereka masih terus berlanjut setelah mereka dinyatakan pulih dari COVID-19. "Mereka akan melanjutkan pekerjaan, hidup dalam sebuah keluarga, dan orang terkasih. Penting membedakan definisi seseorang yang memiliki COVID-19 untuk mengurangi stigma," tulis WHO.   Filter informasi yang beredar
WHO menyarankan untuk mengurangi menonton, membaca, atau mendengarkan berita COVID-19 yang menyebabkan Anda merasa cemas dan tertekan. Carilah sumber informasi terpercaya dan ketahuilah langkah-langkah pencegahan untuk perlindungan diri sendiri dan orang yang dicintai. Jika ingin mendapatkan perkembangan informasi, konsumsilah berita di waktu tertentu seperti siang hari, sekali atau dua kali saja. Pilih informasi dari sumber terpercaya seperti WHO atau Kementerian Kesehatan untuk mendapatkan fakta, bukan rumor (hoax). Baca juga: Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Covid-19   Lindungi diri Anda dan dukung orang lain
Membantu orang lain di saat mereka membutuhkan dapat bermanfaat bagi orang yang menerima dukungan serta yang membantu. Bisa juga bekerja sama sebagai satu komunitas untuk menciptakan solidaritas dalam menangani COVID-19 bersama-sama.   Menyuarakan cerita yang positif
WHO menyarankan untuk menyuarakan cerita yang positif seputar COVID-19. Misal, kisah orang yang sembuh dari COVID-19. Dengan berbagi pengalaman akan memberikan harapan kepada orang lain.   Menghargai tenaga medis
Berilah penghormatan kepada tenaga medis yang menangani pasien COVID-19 di sekitar rumah Anda. Akui peran yang mereka lakukan untuk menyelamatkan hidup dan menjaga orang yang Anda cintai tetap aman.   Video tentang COVID-19
18 March 2020 | 15:00
6 Langkah Meningkatkan Imunitas Tubuh agar Tidak Mudah Terserang Virus
Di tengah ancaman sejumlah penyakit yang beredar, menjaga tubuh tetap sehat adalah kuncinya. Terlebih dengan pandemi Covid-19 (Virus Corona) yang melanda Indonesia, meningkatkan sistem imunitas tubuh sudah tidak boleh ditunda lagi. Baca juga: 6 Langkah Mencuci Tangan agar Terhindari dari Covid-19 Imunitas adalah keadaan menjadi imun; perlindungan terhadap penyakit infeksi yang diberikan oleh respon imun, yang ditimbulkan oleh imunisasi atau infeksi terdahulu atau faktor non imunologis lain (Kamus kedokterdan Dorland). Sistem imunitas tubuh harus dijaga dengan baik agar tidak mudah terserang penyakit. Ada beragam cara meningkatkan imunitas tubuh. Berikut beberapa langkahnya: Rutin mengonsumsi sayur dan buah Berdasarkan analisa Pusat Analisis Determinan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Indonesia, sayuran dan buah-buahan merupakan sumber berbagai vitamin, mineral, dan serat pangan. Sebagian vitamin dan mineral yang terkandung dalam sayuran dan buah-buahan berperan sebagai antioksidan dan penangkal senyawa jahat dalam tubuh. Bila rutin mengonsumsinya, sistem imunitas atau kekebalan tubuh Anda akan meningkat dan tidak mudah terserang virus penyebab penyakit. Istirahat yang cukup Kurang tidur dapat menurunkan imunitas tubuh. Sangat penting buat Anda menjaga pola tidur tetap teratur. Hasil penelitian dari National Sleep Foundation (NSF), sebuah organisasi nirlaba yang berpusat di Amerika Serikat (AS), waktu tidur ideal orang dewasa (usia 18 – 64 tahun) adalah 7 – 9 jam per hari. Sementara untuk balita usia 1-2 tahun di angka 11 – 14 jam per hari. Pemberian vaksin Sejumlah vaksin dirancang untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Untuk Anda yang ingin mengurangi risiko sakit flu atau influenza, dianjurkan menggunakan vaksin flu. (Baca juga: Manfaat Vaksin Flu atau Influenza) Vaksin ini melindungi tubuh dari serangan virus flu. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dari AS, vaksin flu dapat melindungi tubuh dari empat virus flu yang berbeda; virus flu A (H1N1), virus flu A (H3N3), dan dua virus flu B. Anda bisa mendapatkan vaksin flu di Mayapada Hospital. Informasi lebih lanjut silakan menghubungi: Mayapada Hospital Tangerang: 021-5578-1888 Ext 8202 atau +62-812-8970-4231
Mayapada Hospital Jakarta Selatan: 021-29217777 Ext 7228 atau +62-813-8990-0960
BMC Mayapada Hospital: 0251-830-7900 Ext 133 atau +62-896-3781-2925 Info lebih lengkap, klik tautan ini! Rutin berolahraga Meski Anda termasuk orang yang sibuk dengan sejumlah aktivitas, disarankan tetap rutin berolahraga. Untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dianjurkan olahraga mininal 30 menit perhari. Hindari rokok Paparan asap rokok dapat merusak sistem kekebalan tubuh, sehingga lebih rentan terhadap penyakit infeksi. Seseorang yang merokok atau terkena asap rokok berisiko terkena penyakit kronis seperti jantung koroner, kanker paru, dan stroke. Manajemen stres yang baik Sebuah studi dari Ohio State University menunjukan stres psikologis mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan mengganggu komunikasi antara sistem saraf, endokrin (hormon) sistem, dan sistem kekebalan tubuh. Untuk itu, Anda perlu mengelola stres dengan baik agar fungsi sistem kekebalan tubuh tidak menurun. Ayo, mulai #SelangkahLebihSehat agar terhindar dari penyakit  
CLIENT TESTIMONIAL
Tangerang
(021)5578-1888
Jakarta Selatan
(021)2921-7777
Bogor
(0251)830-7900