Fibrilasi Atrium: Gangguan Irama Jantung yang Meningkatkan Risiko Stroke
Stroke tidak hanya dipicu oleh kolesterol atau tekanan darah tinggi, tetapi juga oleh gangguan jantung seperti Fibrilasi Atrium.
Fibrilasi Atrium adalah kondisi ketika ruang atas jantung (atrium) berdetak cepat atau tidak teratur. Pada kondisi normal, irama jantung dikendalikan oleh satu pusat listrik alami bernama nodus sinoatrial (SA).
Pada fibrilasi atrium, impuls listrik muncul dari berbagai titik di atrium sehingga denyut jantung menjadi tidak terkoordinasi. Akibatnya, aliran darah tidak optimal dan sebagian dapat tertahan di kantong kecil atrium kiri yang disebut Left Atrial Appendage (LAA). Kondisi ini bisa memicu stroke iskemik kardioembolik, yaitu stroke yang terjadi saat gumpalan darah terbentuk dan menyumbat pembuluh darah di otak.
Lalu, siapa yang berisiko mengalami fibrilasi atrium? dr. Rerdin Julario, Sp.JP (K), Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Konsultan Aritmia dari Mayapada Hospital Surabaya mengatakan, “Fibrilasi atrium lebih sering ditemukan pada kelompok usia lanjut, terutama di atas 65 tahun.”
“Risikonya juga meningkat pada individu dengan riwayat penyakit jantung, hipertensi, diabetes, obesitas, serta kebiasaan konsumsi alkohol atau kafein berlebihan,” ujarnya. “Karena itu, penderita fibrilasi atrium memiliki risiko stroke sekitar lima kali lebih tinggi dibandingkan orang dengan irama jantung normal.”
Namun, risiko komplikasi fibrilasi atrium dapat ditekan bila kondisi ini dikenali lebih awal. “Pemeriksaan jantung dianjurkan ketika muncul keluhan seperti detak tidak teratur, mudah lelah, sesak napas, atau rasa melayang. Penanganan umumnya menggunakan obat antikoagulan, seperti warfarin, untuk mencegah pembentukan bekuan darah,” kata dr. Rerdin, yang berpraktik di Heart & Vascular Center Surabaya, Mayapada Hospital Surabaya (MHSB).
“Pada pasien dengan risiko perdarahan tinggi atau yang tidak memungkinkan terapi obat jangka panjang, tindakan Left Atrial Appendage (LAA) Closure dapat menjadi alternatif pencegahan stroke,” ujarnya menambahkan.
Selain itu, pengendalian faktor risiko juga berperan penting, seperti olahraga teratur, mempertahankan berat badan ideal, membatasi konsumsi alkohol dan kafein, serta mengelola stres. Pemantauan tekanan darah dan pemeriksaan jantung dengan elektrokardiogram (EKG) secara berkala membantu menurunkan risiko komplikasi.
Melihat pentingnya penanganan fibrilasi atrium dan pencegahan komplikasi secara menyeluruh, Mayapada Hospital Surabaya (MHSB) menghadirkan Heart & Vascular Center sebagai layanan jantung terpadu, dengan pendekatan kolaboratif dan komprehensif mulai dari pencegahan, diagnosis, terapi lanjutan, hingga rehabilitasi.
Layanan Heart & Vascular Center mencangkup layanan pembuluh darah (vaskular), gangguan irama jantung (aritmia), dan kelainan struktur jantung (structural heart) seperti penyakit katup jantung, dengan pendekatan terkini.
Layanan ini juga memiliki Cardiac Advisor yang mendampingi pasien dan keluarga secara menyeluruh sejak diagnosis, perencanaan terapi, tindakan, hingga pemulihan, memastikan setiap keputusan medis dipahami dengan jelas, perawatan berjalan lancar, dan menjawab setiap keraguan pasien dengan cepat dan tepat.
Artikel ditinjau oleh:
dr. Rerdin Julario, Sp.JP (K)
Dokter Spesialis Jantung & Pembuluh Darah
Konsultan Aritmia
Mayapada Hospital Surabaya (MHSB)
Heart & Vascular Center
Mayapada Hospital Surabaya (MHSB)
Jl. Mayjen Sungkono No.16-20
Pakis, Sawahan, Surabaya
Jawa Timur
Google Maps
tags :
Heart & Vascular Center Surabaya Cardiovascular Center Spesialis Jantung Dan Pembuluh Darah