NEWS
26 March 2020 | 11:00
Penyebab dan Pencegahan Gangguan Pendengaran
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan data yang cukup mengejutkan mengenai gangguan pendengaran. Dalam situs resminya, ada sekitar 466 juta orang di dunia mengalami gangguan pendengaran, dan 34 juta di antaranya anak-anak. Gangguan pendengaran adalah seseorang yang tidak dapat mendengarkan suara secara normal. Gangguan pendengaran manusia bisa ringan, sedang dan berat, yang menyebabkan kesulitan dalam mendengarkan pembicaraan atau suara keras. Penyebab gangguan pendengaran ada 2: Gangguan pendengaran bawaan
Gangguan pendengaran yang didapat karena faktor genetik atau komplikasi tertentu selama kehamilan dan persalinan. "Pada anak-anak atau bayi, jika gangguan pendengaran tidak ditangani akan berdampak tuli permanen, dan tidak bisa bicara dalam perkembangannya," ujar dr. Tina Qadarina SpTHT-KL, Dokter Spesialis THT di Mayapada Hospital Jakarta Selatan. Gangguan pendengaran didapat
Berikut sejumlah contoh seseorang mengalami gangguan pendengaran didapat: Penumpukan kotoran di telinga Mengalami penyakit menular seperti meningitis, campak, dan gondongan Infeksi telinga kronis Cedera di kepala atau telinga Proses degenerasi karena faktor usia Akibat suara bising seperti dari penggunaan perangkat audio pribadi dengan volume tinggi secara terus menerus   Pencegahan Gangguan Pendengaran
Menurut WHO, setengah dari gangguan pendengaran dapat dicegah dengan tindakan kesehatan masyarakat. Terlebih pada anak-anak di bawah 15 tahun, penyebab ganguan pendengaran dapat dicegah dengan cara: Imunisasi anak untuk melawan penyakit seperti campak, meningitis, rubella dan gondongan Imunisasi terhadap remaja perempuan dan wanita usia reproduksi untuk mencegah rubella sebelum kehamilan Rutin melakukan pemeriksaan kesehatan telinga 6 bulan sekali (Daftar dokter spesialis THT) Mengurangi paparan suara keras yang berisiko merusak fungsi telinga Menghindari obat-obat tertentu yang dapat membahayakan pendengaran. Selalu konsultasi dengan dokter mengenai penggunaan obat
23 March 2020 | 14:30
Panduan WHO dalam Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi COVID-19
Jumlah kasus pendemi Virus Corona atau COVID-19 di Indonesia terus bertambah setiap hari. Pemberitaan media massa dan banyaknya pesan beredar tentang COVID-19 di situs jaringan pertemanan kian menambah kecemasan masyarakat.  Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun kemudian mengeluarkan panduan pertimbangan kesehatan mental selama adanya pandemi COVID-19. Dalam edaran itu, berikut sejumlah saran untuk menjaga kondisi psikologis masyarakat umum selama COVID -19 berlangsung. Bersikap empati kepada yang terpapar
COVID-19 telah mewabah di sejumlah negara dengan latar belakang etnis yang berbeda. WHO meminta untuk tidak melekatkan stigma pada etnis dan negara tertentu mengenai pandemi ini. Maka itu, berempatilah kepada orang yang terpapar dari negara manapun. "Orang yang terpapar COVID-19 tidak melakukan kesalahan apa pun, dan mereka pantas mendapat dukungan, belas kasih dan kebaikan," tulis WHO di situs resminya. Baca juga: 6 Langkah Meningkatkan Imunitas Tubuh agar Tidak Mudah Terserang Virus   Penyebutan pasien COVID-19 WHO meminta penyebutan pasien yang terpapar COVID-19 dengan sebutan "orang dengan COVID-19"  atau "orang yang sedang dirawat karena COVID-19". Jangan melabeli pasien dengan "kasus COVID-19", "korban", atau "keluarga COVID-19." Kehidupan mereka masih terus berlanjut setelah mereka dinyatakan pulih dari COVID-19. "Mereka akan melanjutkan pekerjaan, hidup dalam sebuah keluarga, dan orang terkasih. Penting membedakan definisi seseorang yang memiliki COVID-19 untuk mengurangi stigma," tulis WHO.   Filter informasi yang beredar
WHO menyarankan untuk mengurangi menonton, membaca, atau mendengarkan berita COVID-19 yang menyebabkan Anda merasa cemas dan tertekan. Carilah sumber informasi terpercaya dan ketahuilah langkah-langkah pencegahan untuk perlindungan diri sendiri dan orang yang dicintai. Jika ingin mendapatkan perkembangan informasi, konsumsilah berita di waktu tertentu seperti siang hari, sekali atau dua kali saja. Pilih informasi dari sumber terpercaya seperti WHO atau Kementerian Kesehatan untuk mendapatkan fakta, bukan rumor (hoax). Baca juga: Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Covid-19   Lindungi diri Anda dan dukung orang lain
Membantu orang lain di saat mereka membutuhkan dapat bermanfaat bagi orang yang menerima dukungan serta yang membantu. Bisa juga bekerja sama sebagai satu komunitas untuk menciptakan solidaritas dalam menangani COVID-19 bersama-sama.   Menyuarakan cerita yang positif
WHO menyarankan untuk menyuarakan cerita yang positif seputar COVID-19. Misal, kisah orang yang sembuh dari COVID-19. Dengan berbagi pengalaman akan memberikan harapan kepada orang lain.   Menghargai tenaga medis
Berilah penghormatan kepada tenaga medis yang menangani pasien COVID-19 di sekitar rumah Anda. Akui peran yang mereka lakukan untuk menyelamatkan hidup dan menjaga orang yang Anda cintai tetap aman.   Video tentang COVID-19
18 March 2020 | 15:00
6 Langkah Meningkatkan Imunitas Tubuh agar Tidak Mudah Terserang Virus
Di tengah ancaman sejumlah penyakit yang beredar, menjaga tubuh tetap sehat adalah kuncinya. Terlebih dengan pandemi Covid-19 (Virus Corona) yang melanda Indonesia, meningkatkan sistem imunitas tubuh sudah tidak boleh ditunda lagi. Baca juga: 6 Langkah Mencuci Tangan agar Terhindari dari Covid-19 Imunitas adalah keadaan menjadi imun; perlindungan terhadap penyakit infeksi yang diberikan oleh respon imun, yang ditimbulkan oleh imunisasi atau infeksi terdahulu atau faktor non imunologis lain (Kamus kedokterdan Dorland). Sistem imunitas tubuh harus dijaga dengan baik agar tidak mudah terserang penyakit. Ada beragam cara meningkatkan imunitas tubuh. Berikut beberapa langkahnya: Rutin mengonsumsi sayur dan buah Berdasarkan analisa Pusat Analisis Determinan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Indonesia, sayuran dan buah-buahan merupakan sumber berbagai vitamin, mineral, dan serat pangan. Sebagian vitamin dan mineral yang terkandung dalam sayuran dan buah-buahan berperan sebagai antioksidan dan penangkal senyawa jahat dalam tubuh. Bila rutin mengonsumsinya, sistem imunitas atau kekebalan tubuh Anda akan meningkat dan tidak mudah terserang virus penyebab penyakit. Istirahat yang cukup Kurang tidur dapat menurunkan imunitas tubuh. Sangat penting buat Anda menjaga pola tidur tetap teratur. Hasil penelitian dari National Sleep Foundation (NSF), sebuah organisasi nirlaba yang berpusat di Amerika Serikat (AS), waktu tidur ideal orang dewasa (usia 18 – 64 tahun) adalah 7 – 9 jam per hari. Sementara untuk balita usia 1-2 tahun di angka 11 – 14 jam per hari. Pemberian vaksin Sejumlah vaksin dirancang untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Untuk Anda yang ingin mengurangi risiko sakit flu atau influenza, dianjurkan menggunakan vaksin flu. (Baca juga: Manfaat Vaksin Flu atau Influenza) Vaksin ini melindungi tubuh dari serangan virus flu. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dari AS, vaksin flu dapat melindungi tubuh dari empat virus flu yang berbeda; virus flu A (H1N1), virus flu A (H3N3), dan dua virus flu B. Anda bisa mendapatkan vaksin flu di Mayapada Hospital. Informasi lebih lanjut silakan menghubungi: Mayapada Hospital Tangerang: 021-5578-1888 Ext 8202 atau +62-812-8970-4231
Mayapada Hospital Jakarta Selatan: 021-29217777 Ext 7228 atau +62-813-8990-0960
BMC Mayapada Hospital: 0251-830-7900 Ext 133 atau +62-896-3781-2925 Info lebih lengkap, klik tautan ini! Rutin berolahraga Meski Anda termasuk orang yang sibuk dengan sejumlah aktivitas, disarankan tetap rutin berolahraga. Untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dianjurkan olahraga mininal 30 menit perhari. Hindari rokok Paparan asap rokok dapat merusak sistem kekebalan tubuh, sehingga lebih rentan terhadap penyakit infeksi. Seseorang yang merokok atau terkena asap rokok berisiko terkena penyakit kronis seperti jantung koroner, kanker paru, dan stroke. Manajemen stres yang baik Sebuah studi dari Ohio State University menunjukan stres psikologis mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan mengganggu komunikasi antara sistem saraf, endokrin (hormon) sistem, dan sistem kekebalan tubuh. Untuk itu, Anda perlu mengelola stres dengan baik agar fungsi sistem kekebalan tubuh tidak menurun. Ayo, mulai #SelangkahLebihSehat agar terhindar dari penyakit  
17 March 2020 | 14:00
Vaksin Flu Melindungi Tubuh dari Serangan Virus
Flu atau Influenza adalah infeksi virus akut pada saluran pernapasan, yang dapat timbul sebagai kasus terpisah, epidemi, atau pandemi (Kamus Kedokteran Dorland).  Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, influenza (flu) adalah penyakit pernapasan menular yang disebabkan virus influenza. Virus ini menginfeksi hidung, tenggorokan, dan terkadang paru-paru. Virus influenza dapat menyebabkan penyakit ringan dan berat, terkadang dapat menyebabkan kematian. Penderita flu akan mengalami sakit kepala, demam, hidung tersumbat, pilek dan batuk. Influenza termasuk salah satu penyakit yang rutin menyerang tubuh manusia tiap tahun. Pemberian vaksin flu atau influenza dianggap penting sebagai salah satu pencegahan penyakit flu dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), manfaat pemberian vaksin influenza bagi orang dewasa yang sehat dapat melindungi tubuh dari serangan virus. Bahkan, meski virus yang beredar tidak sesuai, vaksin ini tetap dapat melindungi tubuh. Sementara untuk orang lanjut usia, vaksin influenza dapat mengurangi tingkat keparahan dari komplikasi penyakit dan mengurangi risiko kematian. WHO merekomendasikan vaksin tahunan untuk: Wanita hamil Anak-anak berusia 6 bulan hingga 5 tahun Orang lanjut usia (Usia di atas 65 tahun) Penderita penyakit kronis Pekerja medis Bagi Anda yang ingin meningkatkan imunitas tubuh dan mencegah sakit influenza, silakan klik tautan ini Meski Anda sudah mendapat vaksin influenza, dianjurkan untuk terus menjaga kesehatan sebagai perlindungan diri dari segala virus, seperti: Cuci tangan secara teratur menggunakan sabun atau penggunaan antiseptik berbahan alkohol (Baca juga: 6 Langkah Mencuci Tangan agar Terhindar Virus Corona)  Tutup mulut dan hidung ketika bersin dan batuk menggunakan tisu, dan membuangnya secara benar. Ini untuk mengurangi penyebaran virus influenza. (Baca juga: Etika Bersin dan Batuk) Mengisolasi diri sendiri dari mereka yang sedang demam, dan memiliki gejala influenza Menghindari kontak dengan orang yang sakit influenza Menghindari menyentuh wajah (terutama hidung dan mulut) saat kondisi tangan kurang bersih Gejala Influenza atau Flu Sebagai informasi tambahan, berikut gejala flu yang kerap dialami penderita: Sakit kepala ringan Bersin-bersin Sakit tenggorokan Hidung tersumbat dan berair Batuk Demam (jarang) Influenza biasanya memiliki masa inkubasi 3 hari dan berlangsung selama 3 hingga 10 hari. *Inkubasi: masa dari saat penyebab penyakit masuk ke dalam tubuh (saat penularan) sampai ke saat timbulnya penyakit itu
 
16 March 2020 | 13:00
ASI Eksklusif Cegah Obesitas pada Anak
Air Susu Ibu (ASI) mengandung semua nutrisi yang diperlukan bayi selama enam bulan pertama dan memenuhi setengah kebutuhan nutrisi bayi hingga dua tahun masa kehidupannya. Pemberian ASI secara eksklusif atau tanpa memberikan makanan lain kepada bayi merupakan cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi. Berikut beberapa manfaat ASI dalam mencegah obesitas pada anak: Mencegah metabolisme asupan yang tidak diperlukan oleh bayi Tubuh bayi yang diberi makanan tambahan sebelum berusia enam bulan akan mencerna protein dan karbohidrat total yang lebih banyak dibandingkan apabila bayi hanya mendapatkan ASI eksklusif. Hal inilah yang akan memicu peningkatan berat badan bayi dan akan terus meningkat hingga memasuki usia anak-anak dan menyebabkan obesitas. Baca juga: Cegah Obesitas pada Anak, Terapkan Pola Makanan Seimbang Mencegah penyimpanan lemak pada tubuh bayi Apabila bayi sudah memiliki simpanan lemak yang terlalu banyak, maka bayi akan berisiko untuk tumbuh dengan berat badan lebih dan menjadi obesitas pada usia anak-anak. Pemberian ASI secara eksklusif akan mencegah pembentukan sel lemak pada bayi akibat sekresi berlebih hormon insulin dan hormon pencernaan dari pankreas dan lambung. Membantu pembentukan keseimbangan kebutuhan energi bayi ASI mengandung hormon dan komponen biologis lainnya yang mengatur asupan makanan dan karbohidrat yang dibutuhkan, dan akan membantu menjaga keseimbangan kebutuhan energi bayi hingga dewasa. Baca juga: Yuk, Penuhi Kebutuhan Nutrisi pada Anak Para peneliti juga telah membuktikan hal ini dengan beberapa penelitian. Salah satu penelitian menunjukkan bahwa anak yang diberikan ASI secara eksklusif hingga berusia enam bulan memiliki risiko 22% lebih rendah untuk mengalami obesitas pada usia anak-anak, dan risiko obesitas pada anak akan lebih rendah 36% jika diberikan ASI eksklusif lebih dari sembilan bulan. "Kalori yang terkandung dalam ASI sudah benar-benar pas untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak," kata dr. Sandra Darmawan, SpA MHJS. "ASI merupakan anugerah yang Tuhan berikan, sehingga takarannya tidak mungkin kurang atau pun lebih. Berbeda dengan susu formula buatan manusia, tidak ada susu formula yang benar-benar seimbang 100% kandungan nutrisinya,"
11 March 2020 | 16:00
Cegah Obesitas pada Anak, Terapkan Pola Makan Seimbang
Obesitas pada anak merupakan salah satu masalah kesehatan yang harus diwaspadai oleh orang tua. Anak yang terindikasi obesitas, pertumbuhan dan perkembangannya akan terganggu sehingga dapat memicu penyakit kronis pada usia yang lebih dini. "Esensi dari obesitas itu kan kelebihan lemak. Kelebihan lemak terjadi ketika banyak yang masuk, tetapi tidak ada yang dibuang keluar,"  kata dr. Sandra Darmawan, SpA dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS). "Idealnya, makanan yang masuk ditransformasikan menjadi energi dan zat-zat lain yang dibutuhkan tubuh. Tapi jika anak-anak tidak banyak melakukan aktivitas fisik, makanan yang masuk ini hanya akan jadi lemak yang menumpuk. Bayangkan kalau itu terjadi selama bertahun-tahun," dr. Sandra Darmawan, SpA menambahkan. Dokter Sandra melanjutkan, kecenderungan orang tua di Indonesia adalah senang melihat anaknya makan. Akhirnya, segala jenis makanan disediakan untuk anak. Kebiasaan ini tidak salah karena anak-anak dalam tahap pertumbuhan membutuhkan asupan makanan dan nutrisi yang banyak. Namun, kebiasaan ini jadi tidak baik kalau tidak dibarengi dengan kebiasaan beraktivitas fisik yang dapat menunjang pembuangan kalori. Akibatnya, anak bisa terindikasi obesitas. Baca juga: Turunkan Berat Badan melalui Operasi Bariatrik Indikasi Obesitas pada Anak Korelasi antara orang tua yang obesitas dan anak yang obesitas kita kenal dengan istilah faktor genetik. Selain faktor genetik, obesitas pada anak juga cenderung terjadi karena anak tinggal di lingkungan sosial yang sama dengan orang tua yang obesitas. Bahkan obesitas merupakan masalah kesehatan pandemi yang terjadi secara global dan hal ini sudah mulai dari dalam kandungan. Ibu hamil dengan obesitas meningkatkan risiko komplikasi yang dapat berdampak kesehatan dan gangguan perkembangan pada anak yang dilahirkan. Ibu hamil yang mengalami obesitas berdampak pada kemampuan untuk mengatur hormon dan menyerap nutrisi setelah bayi dilahirkan. Kemudian, faktor lingkungan seperti penyediaan nutrisi dan pemilihan makanan oleh orang tua akan mempengaruhi pola makan anak pada masa pertumbuhan hingga dewasa. "Pada masa kehamilan, seorang ibu dengan indeks masa tubuh normal diizinkan mengalami kenaikan 11-18 kg. Sedangkan ibu dengan berat badan berlebih atau obesitas hanya boleh naik sebanyak 7-9 kg. Jika bayi lahir lebih dari berat normal yakni lebih dari 4 kg, maka bayi tersebut ada faktor resiko obesitas," kata dr. Arti Indira, M.Gizi., Sp.GK MHJS. Status gizi seorang anak dapat diprogram sejak di dalam kandungan. Kebutuhan kalori ibu hamil harus ditambah dari kebutuhan kalori wanita normal. "Contoh seorang wanita normal usia reproduksi makannya sekitar 1.500-1.800 kalori per hari. Kalau ibu hamil dibutuhkan sekitar 300 kalori lagi dari banyaknya kalori normal per hari, jadi 1.800 kalori + 300 kalori jadi 2.100 kalori yang dibutuhkan ibu hamil per hari. Penambahan 300 kalori itu bisa dari buah dan susu cukup," tambah dr. Arti. Gejala obesitas pada anak Gejala obesitas pada anak ditandai dengan berat badan yang tidak sesuai dengan tinggi badan dan melebihi batas normal anak seusianya. Berbeda dengan kegemukan, anak yang mengalami obesitas menimbun lemak yang sangat banyak ke tubuh terutama pada lengan atas, perut dan pinggang. "Mengetahui gejala obesitas pada anak secara kasat mata, cara termudahnya adalah dengan melihat seberapa gemuk anak tersebut atau dengan hitung-hitungan sederhana terkait indeks masa tubuh. Rumusnya: berat badan (kg)/ (tinggi badan [cm]/ 100). Kalau hasilnya antara 18,5 sampai 22,9 itu normal. Antara 23 sampai 24,9 itu berisiko obesitas tapi belum obesitas. Di atas 25, itu obesitas," kata dr. Sandra Darmawan, SpA. Cara satu-satunya untuk memastikan apakah anak Anda obesitas adalah dengan rutin memeriksakan anak ke dokter atau Puskesmas untuk memantau tinggi dan berat badannya sesuai grafik tumbuh kembangnya di Kartu Menuju Sehat (KMS). Perlu diingat, efek lebih lanjut dari obesitas anak itu sama dengan orang dewasa, yakni timbulnya penyakit-penyakit berbahaya seperti gangguan jantung dan hipertensi. Lebih parah lagi, sudah ada penelitian yang menyebutkan bahwa 80% anak obesitas akan terus obesitas hingga ia dewasa. Risiko Kesehatan Anak yang Obesitas Jangan sepelekan berat badan anak yang tidak ideal. Anak dan remaja yang kelebihan berat badan atau obesitas akan lebih rentan mengalami diabetes (kencing manis), kolesterol tinggi, penyakit jantung, tekanan darah tinggi (hipertensi), hingga kanker ketika mereka dewasa nanti. Baca juga: Anak Muda Berisiko Terkena Penyakit Jantung Komplikasi kesehatan lainnya dari obesitas pada anak juga dapat mencakup asma, sleep apnea, perlemakan hati, pubertas dini, gangguan koordinasi (sulit untuk menggerakan anggota tubuh dan kemampuan keseimbangan tubuh yang buruk), hingga masalah psikologis seperti rasa rendah diri hingga depresi. "Non Communicable Disease (NCD) pangkalnya dari obesitas," kata dr. Arti, M.Gizi., Sp.GK. Pencegahan Obesitas pada Anak Lalu bagaimana cara mencegah dan mengatasi obestias pada anak? Nah, orang tua dengan anak yang terindikasi obesitas haruslah waspada dan mulai mengubah pola asuh dalam pemenuhan nutrisi anak. Batasi konsumsi makanan dan minuman kemasan yang manis. Selain mengatur pola makan yang sehat dan seimbang, olahraga juga perlu dimasukkan ke dalam rutinitas harian anak. Pada masa pertumbuhan, sebaiknya anak mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, terdiri dari makanan yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Biasakan juga anak-anak Anda untuk makan buah-buahan dan sayuran. Biasakan anak untuk melakukan aktivitas fisik setidaknya 60 menit setiap hari untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Anda bisa mengajak anak bermain di taman, berenang, berlari, hingga bersepeda setiap akhir pekan. Batasi waktu anak untuk menonton TV ataupun bermain games. Bagi orang tua, jadilah panutan bagi anak untuk hidup sehat agar ia dapat mengikuti perilaku dan gaya hidup sehat dari Anda. "Orang tua harus waspada obesitas pada anak. Segala sesuatu itu harus seimbang. Kelebihan tidak bagus, kekurangan pun sama tidak bagusnya. Yang harus betul-betul dicamkan adalah bahwa di masa sekarang, anak gendut itu tidak selamanya lucu dan menggemaskan. Anak gendut tidak selamanya "subur" atau sehat. Sebab justru dibalik kegemukan itu tersimpan potensi penyakit yang berbahaya untuk masa depan anak," terang dr. Sandra Darmawan, SpA.
Tangerang
(021)5578-1888
Jakarta Selatan
(021)2921-7777
Bogor
(0251)830-7900