NEWS
21 February 2020 | 13:00
Solusi Mutakhir Mengatasi Saraf Kejepit
Pernah mendengar penyakit saraf kejepit? Bahasa kedokterannya adalah Herniated Nucleus Pulposus (HNP) alias slipped disc. Saraf kejepit salah satu gangguan pada tulang belakang yang paling sering dialami oleh mereka yang berusia muda dan tengah baya.  Ini adalah kondisi terselipnya piringan di sepanjang tali tulang belakang akibat mendapat tekanan berlebih. HNP bisa terjadi pada mereka yang melakukan olahraga ekstrem dan aktivitas angkat berat. Namun begitu, sering juga dialami oleh orang yang memiliki kebiasaan sedentary, tak pernah berolahraga, atau biasa bekerja dengan duduk berlama-lama. Dulu, gangguan ini harus ditangani dengan tindakan operasi besar yang membutuhkan waktu lama untuk pulih. Tapi kini sudah ada metode mutakhir yang lebih nyaman untuk pasien, yaitu Minimally Invasive Spinal Surgery (MISS). Metode mutakhir penanganan saraf kejepit MISS atau Bedah Tulang Belakang Invasif Minimal adalah metode terkini untuk operasi gangguan di tulang belakang dengan prinsip invasif minimal, menggunakan bantuan peralatan operasi mutakhir untuk keberhasilannya. Menurut spesialis ortopedi dari Mayapada Hospitals Jakarta Selatan, dr. Syafruddin, SpOT (K)-Spine, sebetulnya teknologi MISS sudah mulai digunakan 10 tahun lalu di Indonesia. Kini banyak rumah sakit yang menggunakan metode ini beberapa tahun belakangan sehingga metode ini pun makin populer. Banyak keuntungan yang dimiliki MISS dibanding dengan bedah konvensional. "Dengan luka sayatan yang kecil, maka risiko infeksi pun lebih kecil," kata dr. Syafruddin. "Selain itu, rasa sakit yang ditimbulkan pun lebih ringan dan waktu pemulihan lebih cepat." Dari segi biaya total pun lebih kecil jika dibandingkan dengan operasi besar konvensional. Jika pada bedah konvensional ada biaya untuk pemulihan setelah operasi selama 4-5 hari dan antibiotik yang lebih banyak untuk mencegah infeksi pada luka operasi, pada MISS tidak. "Pasien yang melakukan operasi pagi, sore harinya mungkin sudah bisa langsung pulang sehingga memangkas banyak biaya untuk pemulihan," papar dr. Syafruddin. Sebagian masyarakat masih menganggap bahwa operasi pada tulang belakang berisiko menyebabkan kelumpuhan atau kecacatan. Namun, dengan MISS, kekhawatiran tersebut akan menghilang. Sebab, penggunaan peralatan dengan teknologi terkini pada MISS lebih memperkecil risiko kerusakan tulang, saraf, dan jaringan lainnya di sekitar lokasi bedah. Dengan begitu pula angka komplikasi pasca operasi menjadi kecil. Keunggulan MISS
• Kerusakan jaringan tubuh lebih sedikit
• Waktu rawat inap lebih pendek sehingga biayanya pun bisa ditekan
• Pasien mendapat kenyamanan selama dan setelah operasi
• Pasien lebih cepat kembali beraktivitas
• Komplikasi lebih sedikit
• Bisa dilakukan untuk semua usia Target MISS Menurut dr. Syafruddin, kecuali kelainan bawaan, hampir semua kelainan degeneratif tulang belakang bisa dilakukan MISS. Dari Herniated Nucleus Pulposus (HNP) alias slipped disc atau saraf kejepit, bentuk tulang belakang berubah seperti pada skoliosis, hingga gangguan stabilitas seperti patah, tulang bergeser, atau cedera.

Untuk bedah invasif minimal tulang belakang di Mayapada Hospitals Jakarta Selatan dapat dilakukan tindakan MED/Micro Endoscopic Discectomy (hanya satu jam saja), PELD (tindakan operasi dgn menggunakan jarum), kyphoplasty dan vertebroplasty untuk memperbaiki fraktur tulang belakang dengan inserting balon atau injeksi cement di tulang belakang. Menutup perbincangan, dr. Syafruddin mengatakan bahwa keberhasilan MISS ini tak hanya tergantung pada peralatan canggih medis, tapi juga pada sikap dan kemauan untuk sembuh dari pasien sendiri. "Pasca operasi, pasien disarankan untuk melakukan aktivitas fisik yang bisa membantu mempercepat penyembuhan. Selain itu asupan nutrisi juga harus diperhatikan seperti memperbanyak asupan kalsium dan vitamin D untuk kekuatan tulang. Jika itu tidak dilakukan, maka pulihnya pun akan semakin lama," ujarnya.
19 February 2020 | 15:00
Tulang Belakang Menua, Hati-hati Saraf Kejepit
Seperti organ tubuh lainnya, tulang belakang (spine) akan mengalami penuaan seiring bertambahnya usia. Biasanya penuaan tulang belakang ini disertai ancaman penyakit. Apa saja penyakitnya: Osteoporosis Osteoporosis adalah kondisi saat kualitas kepadatan tulang menurun. Dalam kondisi tulang keropos, risiko patah tulang memungkinkan terjadi. Untuk itu, disarankan agar menjaga sikap dan berhati-hati dalam setiap kegiatan fisik yang mengandalkan tulang belakang. Facet joint syndrome Juga disebut sindrom yang menyerang sendi/bantalan. Bantalan akan menipis sehingga memicu tulang-tulang menyatu dan menyebabkan pengapuran. Dari proses pengapuran inilah akan tumbuh tulang (tidak wajar) di antara tulang yang menyatu tersebut. Spinal stenosis Penyempitan pada kanal tulang belakang yang mungkin terjadi mulai dari leher (cervical) sampai ke punggung bagian bawah (lumbar). Penyempitan inilah yang akan menekan saraf dan menimbulkan rasa sakit sehingga sering disebut sebagai penyakit saraf kejepit. Penyempitan kanal tulang belakang juga bisa disebabkan oleh bantalan yang menipis dan membuat tulang saling beradu. Tulang yang beradu bisa bergeser dan bisa menjepit saraf dan menimbulkan rasa sakit. Seseorang yang mengalami saraf kejepit di bagian leher akan merasakan dampak pada tangannya, mulai dari kesemutan, lalu nyeri, hingga tidak bisa lagi digerakkan. Jika yang mengalami saraf kejepit terletak di punggung bawah, keluhan sakit akan terasa di kaki, betis, atau punggung bawah ketika digunakan untuk berdiri atau berjalan. Pengobatan dilakukan bergantung dari penyakit dan berat-ringannya keluhan yang dirasakan. Untuk penyakit osteoporosis, cukup diberikan obat-obatan apabila keluhan masih tergolong ringan. Namun jika tulang sudah dalam kondisi patah, maka tindakan yang bisa dilakukan adalah menyuntikkan semen untuk memperkuat tulang. Begitu juga dengan bantalan yang rusak. Kalau masih dalam tahap ringan, cukup dengan obat-obatan dan fisioterapi. Untuk kondisi yang berat, bisa dilakukan suntik laser untuk memperkuat bantalan. Jika bantalan rusak sampai menjepit saraf, dilakukan operasi untuk membetulkan posisi bantalan. Operasi yang lebih besar, yakni memasang pen sebagai pengganti bantalan jika bantalan sudah tidak bisa digunakan lagi. Operasi saraf kejepit bisa dilakukan di Mayapada Hospital. Info lengkap, klik tautan ini! Konsultan: dr. Syafruddin, SpOT(K)-Spine
Mayapada Hospital Jakarta Selatan
18 February 2020 | 11:30
Anak Muda Berisiko Terkena Penyakit Jantung
Ada pertanyaan di Instagram Mayapada Hospital seputar jantung. Pertanyaannya seperti ini: Apakah penyakit jantung dapat menyerang anak muda? "Bisa banget," kata dr. Ayuthia Putri Sedyawan, Spesialis Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah dari Mayapada Hospital. "Penyakit jantung bukan hanya untuk orang tua saja, anak muda juga bisa kena." Anak muda berisiko terkena penyakit jantung koroner atau serangan jantung karena sejumlah faktor, seperti gaya hidup tidak sehat. "Anak muda yang gemuk (obesitas), tidak berolahraga, merokok, dan stres tinggi, itu bisa memicu penyakit jantung," ujarnya. Kamu dapat menonton lebih lengkap jawaban seputar Penyakit Jantung di video yang ada di bawah! Daftar pertanyaan di video:
0:36 | Dada kiri sering sakit. Apa ini menandakan kelainan jantung?
1:33 | Apakah sering sesak nafas disebabkan karena kelainan jantung?
2:38 | Apakah penyakit jantung itu penyakit turunan? Jika iya, bagaimana pencegahannya?
4:56 | Jika ada yang terkena serangan jantung, bagaimana pertolongan pertamanya?
6:37 | Apa penyakit jantung dapat menyerang anak muda? Pada usia berapa?
8:32 | Bolehkah penderita penyakit jantung berolahraga?
17:22 | Mitos atau fakta kalau orang dikagetin nantinya bisa jantungan?   --- Mayapada Hospital Cardiovascular Center Layanan komprehensif dengan pendekatan holistik untuk kesehatan jantung mulai dari pencegahan dan deteksi dini, meliputi diagnosa, pengobatan, operasi jantung dan rehabilitasi. Informasi lengkap, klik tautan ini!
17 February 2020 | 15:00
Ketahui Penuaan pada Tulang Belakang
Seperti organ tubuh lainnya, tulang belakang pun akan mengalami penuaan seiring bertambahnya usia. Rasa nyeri pada punggung atau tulang belakang (spine) tergolong masalah kesehatan umum yang menimpa orang dewasa. Mulai dari level ringan hingga ekstrem. Penyebabnya pun beragam, antara lain sikap tubuh yang salah (ketika berdiri, duduk, tidur), memberi beban pada tulang belakang yang berlebihan, menderita obesitas, gaya hidup tidak sehat, dan merokok. Namun selain itu, degeneratif (penuaan) pada tulang belakang menjadi penyebab yang paling umum terhadap timbulnya rasa nyeri. Seperti organ tubuh lainnya, tulang belakang pun akan mengalami penuaan seiring bertambahnya usia. Hanya saja, karena tulang belakang berperan sebagai penyangga tubuh dan di dalamnya terdapat saraf penting, maka organ yang satu ini menjadi sangat vital. Struktur yang kompleks Tulang belakang terdiri dari 33 ruas, terbagi atas 7 ruas tulang leher, 12 ruas tulang punggung, 5 ruas tulang pinggang, dan 9 ruas lagi yang merupakan kesatuan dari tulang duduk. Tulang belakang yang normal tidak lurus, tapi berbentuk seperti kurva. Dari atas melengkung keluar, kemudian melengkung ke dalam dan terakhir keluar lagi. Struktur tulang belakang yang normal terdiri dari tulang, bantalan/sendi (tulang rawan) yang berisi cairan berbentuk gel yang terdapat di antara ruas tulang, serta rongga yang berisi saraf (kanalis spinalis). Bantalan inilah yang memungkinkan tulang bisa melakukan gerakan yang fleksibel. Kelainan yang mungkin terjadi (bersifat bawaan) pada tulang belakang, antara lain tulang menyatu (harusnya dipisah oleh bantalan), tulang tidak berbentuk, atau jumlah tulang yang kurang. Tulang belakang termasuk yang paling pertama dibentuk pada masa embrio. Sekitar minggu ke-5 dan 6 kehamilan, mulai terjadi proses pembentukan tulang belakang. Prosesnya sendiri terbilang sangat kompleks. Memasuki usia kehamilan minggu ke-12, barulah terbentuk tulang belakang yang normal. Meskipun pada saat itu janin masih mirip kecebong, namun struktur tulang belakangnya sudah lengkap kemudian tumbuh seiring waktu. Tulang dan sendi: Penuaan signifikan Pada tulang belakang, ada yang disebut sebagai proses maturitas, yakni kondisi tulang tidak mengalami perubahan lagi. Seperti tulang lainnya, tulang belakang juga sangat bergantung pada hormonal dan kalsium. Karena itulah, pada wanita, timeline-nya lebih jelas, yaitu dua tahun setelah menstruasi tulang belakang tidak lagi berubah, kemudian saat memasuki masa menopause akan mengalami penuaan. Proses aging pada wanita lebih jelas sebab pada masa menopause hormon reproduski sudah tidak lagi diproduksi. Sementara pada pria, periode waktu pertumbuhan dan penuaan relatif tidak bisa dipastikan mengingat hormon terus diproduksi selama stamina tubuhnya tetap prima. Meski kaum pria memiliki kemampuan dalam memproduksi hormon, bukan berarti risiko penuaan tulang belakang menjadi lebih rendah dibanding wanita. Kaum pria identik sebagai pencari nafkah sehingga banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Faktor-faktor seperti sikap tubuh yang salah saat beraktivitas maupun kecelakaan yang berakibat fatal pada tulang bisa menjadi ancaman. Di samping itu, gaya hidup tidak sehat, semisal merokok akan meningkatkan risiko penuaan pada tulang belakang. Semua komponen di tulang belakang bisa mengalami penuaan, namun bagian sendi (bantalan) dan tulang yang paling signifikan. Proses penuaan pada bantalan ditandai dengan berkurangnya gel sehingga akan menipis. Saat menipis, tulang dengan tulang akan bertemu dan akhirnya bisa menimbulkan pengapuran. Struktur tulang yang mengalami penuaan disebut osteoporosis. Kondisi tulang yang awalnya padat, lambat laun akan keropos. Secara kasat mata, seseorang yang mengalami penuaan tulang belakang bisa dikenali dari ukuran tubuhnya yang memendek atau membungkuk. Tubuh yang memendek diakibatkan dari bantalan-bantalan yang menipis, sedangkan membungkuk disebabkan oleh kondisi tulang yang mengeropos. Selain itu, orang yang mengalami penuaan tulang belakang akan cepat merasa lelah ketika jalan, dan jika terjatuh akan mudah mengalami patah tulang. Konsultan: dr. Syafruddin, SpOT(K)-Spine
Mayapada Hospital Jakarta Selatan --- Mayapada Hospital Spine & Arthoplasty Centre Menyajikan perawatan medis terpadu dan komprehensif untuk sindrom tulang, meliputi operasi tulang belakang, cedera olahraga ortopedi dan lain sebagainya. Layanan lengkap, klik tautan ini!
05 February 2020 | 15:00
Tips Mengatasi Stres dalam Mengasuh Anak yang Mengidap Penyakit Kanker
Setiap orang tua mengidamkan anaknya tumbuh sehat. Namun, di Indonesia, ada sekitar 4.100 orang tua yang kurang beruntung karena anaknya mengidap penyakit kanker. Angka 4.100 adalah kisaran jumlah per tahun anak Indonesia yang terkena penyakit kanker (Data Yayasan Kanker Anak Indonesia). Bahkan, kanker pada anak menyumbang 10 persen kematian anak yang disebabkan penyakit. Sebagai orang tua, tentu tidak mudah mengasuh dan merawat anak yang mengidap penyakit kanker. Dibutuhkan tenaga ekstra dan perhatian lebih kepada sang anak. Psikolog Theresia Michelle dari Mayapada Hospital memberikan tips bagaimana manajemen stres pada orang tua dalam mengasuh anak yang terkena kanker. Tentukan cara mengatasi stres
Setiap orang punya cara tersendiri dalam mengatasi stres. Menurut Theresia, banyak cara bisa dilakukan melepas stres, seperti berolahraga, mengerjakan sesuatu yang kreatif atau melakukan relaksasi sederhana. Meluapkan perasaan  
Orang tua yang anaknya mengidap penyakit kanker perlu menerima perasaan. "Perasaan sedih, marah, kecewa adalah perasaan normal di situasi yang tidak normal," ujar Theresia. Ia mengimbau agar orang tua tidak mengabaikan perasaan-perasaan itu. Ia menyarankan orang tua justru harus menyalurkan emosi dengan sehat tanpa melukai diri sendiri. Orang tua bisa menyalurkan emosi dengan menulis jurnal atau diary. Terima bantuan orang lain
Pengasuhan anak yang terkena kanker akan lebih ringan bila ada orang lain yang membantu, baik itu keluarga ataupun sahabat. Kata Theresia, terima lah bantuan jika ada yang menawarkan. "Namun, komunikasikan dengan baik bantuan yang dibutuhkan itu," ujar Theresia. Rehat sejenak dari rutinitas
Orang tua perlu menyadari kalau mereka juga butuh istirahat atau relaksasi. Carilah waktu untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan diri sendiri. "Orang tua merupakan pengasuh utama anak, jadi perlu memperhatikan diri sendiri sebelum memperhatikan orang lain," kata Theresia. Minta dukungan keluarga dan sahabat
Ketika suasana hati sedang dalam keadaan sedih, teman dekat atau keluarga bisa memberikan semangat atau dukungan. Orang tua juga bisa bergabung dalam sebuah grup sosial yang anggotanya punya nasib sama (punya anak mengidap kanker). "Saling bertukar cerita ke sesama akan membantu orang tua menyalurkan emosi yang dimiliki," ujar perempuan berkacama ini. Berdoa
Fokuslah pada waktu dan energi yang dimiliki, serta andalkan spiritual yang diyakini. Apabila berdoa di rumah ibadah membantu melepaskan kesedihan, lakukan. Bicara lah kepada pemuka agama mengenai masalah yang dihadapi dan bagaimana mengatasinya sesuai agama dan kepercayaan.    Sebelum terlambat, kenali gejala penyakit Kanker Darah (Leukimia) pada anak di video ini:
31 January 2020 | 14:00
Waspadai Godaan Kuliner Online
Beragam makanan enak yang dijual secara online tak jarang membuat iman goyah. Awas, obesitas dan diabetes mengincar! Untuk mencari makanan yang lezat, dari makanan ringan hingga yang berat, sekarang begitu mudah dan menggoda. Tinggal buka market place di smartphone, pilih yang diinginkan, dan tunggu pesanan datang. Tak perlu ke luar rumah menerjang macetnya lalu lintas dan teriknya matahari. Enaknya lagi, Anda bisa sambil mengerjakan hal lain di rumah. Di satu sisi, teknologi digital memang mempermudah kita mendapatkan apa saja. Namun di sisi lain tentu ada juga dampak buruknya, terutama jika kita tidak menyikapinya secara bijak. dr. Benjamin Sastro, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Mayapada Hospital Tangerang, mengatakan, kondisi ini sebenarnya bisa menjadi ajang untuk melatih kebiasaan menjalankan pola hidup sehat. "Namun, sejumlah orang menemukan kendala yang membuat pertahanan jadi goyah, sehingga untuk menyukseskan niatan tersebut dibutuhkan perubahan yang menyeluruh. Dimulai dari niat yang kuat, disiplin terhadap diri sendiri, dan konsisten," ujarnya. Lebih lanjut dokter Ben mengingatkan, yang harus diwaspadai sebenarnya malah orang dengan tubuh yang sehat. Karena merasa sehat, mereka jadi lengah dengan tidak mengontrol pola makannya. "Kalau orang yang menderita diabetes biasanya lebih waspada karena sudah sering berkonsultasi dengan dokter," katanya. Menjaga Berat Badan Tetap Stabil Salah satu yang penting diperhatikan untuk menahan godaan kuliner online adalah menjaga berat badan. Karena menurut dr. Ben, kelebihan berat badan atau biasa disebut obesitas jangan dipandang hanya sebatas mengganggu penampilan. Pasalnya, obesitas merupakan awal munculnya berbagai penyakit. Obesitas juga yang menyebabkan gangguan pada jantung koroner, stroke, bahkan diabetes. Ketika dilakukan tes glukosa dan kolesterol pada penderita dan bukan penderita obesitas, maka terlihat perbedaan parameter metabolik. Misalnya, angka parameter glukosa dan kolesterol lebih tinggi. "Dari berat badan saja, penderita obesitas mempunyai risiko lebih tinggi terkena diabetes ketimbang mereka yang tidak menderita obesitas," jelasnya. Untuk itu, kuncinya adalah menerapkan gaya hidup sehat dimulai dari asupan nutrisi yang baik, istirahat yang cukup, dan juga rutin berolahraga. Sumber: Health Insights Vol.9
27 January 2020 | 11:30
5 Kebiasaan Sehat buat Kamu yang Sibuk Kerja
Pada sebuah survei yang dilakukan terhadap 1.000 profesional muda, nyaris semua responden (di atas 95%) mengakui bahwa tingkat kesehatan berpengaruh terhadap karier mereka. Survei yang rilis pada 2015 oleh produsen susu ini menunjukkan bahwa kesadaran yang tinggi akan pentingnya kesehatan ternyata tidak selalu dibarengi dengan tindakan nyata. Sebagian kaum profesional malah akrab dengan gaya hidup tidak sehat, seperti merokok, mengonsumsi minuman alkohol, tidur larut malam, dan memilih makanan sesukanya. Baca juga: Memulai Aktivitas dengan Pola Hidup Sehat Buat kamu yang sibuk dengan segala pekerjaan di kantor, 5 aktivitas ini dapat membantu tubuh tetap bugar disela-sela tugas kantor: Parkir yang jauh Ke mana pun tujuan kamu, parkirlah mobil kamu cukup jauh dari gedung, sehingga kamu harus berjalan kaki. Tanpa terasa hal ini akan menyehatkan jantung, paru-paru, otot-otot tungkai, serta menguatkan otot perut dan punggung. Pilih tangga, bukan lift Ketika ke mal atau di kantor, biasakan menggunakan tangga untuk naik-turun lantai. Aktivitas ini bermanfaat untuk menguatkan kedua tungkai dan bokong kamu. Gunakan keranjang belanja Pilih keranjang belanja untuk membawa barang belanjaan kamu agar otot-otot lengan kamu terlatih menjadi kuat. Jalan kaki makan siang ke resto Daripada menyuruh office boy, sebaiknya kamu sendiri yang pergi makan siang ke resto dekat kantor dengan berjalan kaki. Aktivitas aerobik ini setidaknya dapat membantu menyehatkan jantung dan paru-paru kamu. Olahraga selagi antre Ketimbang diam saja ketika sedang antre membayar di kasir, kamu bisa melakukan ini: - Untuk melatih keseimbangan, berdirilah pada satu kaki selama beberapa detik, bergantian kaki kanan dan kiri. - Untuk menguatkan kaki, berjinjitlah selama beberapa detik, ulangi beberapa kali. Sumber: Health Insights Vol 6
Tangerang
(021)5578-1888
Jakarta Selatan
(021)2921-7777
Bogor
(0251)830-7900