Rahasia Atlet Sepak Bola Tetap Prima, Kenali Batas Kemampuan Tubuh

...

Saat menonton pertandingan sepak bola, mungkin pernah terlintas pertanyaan, bagaimana atlet sepak bola bisa terus berlari, melakukan sprint, dan duel fisik di berbagai pertandingan?

Rahasianya bukan hanya latihan keras, tetapi juga memahami batas kemampuan tubuh. Dalam sports medicine modern, prinsip ini penting untuk mengukur kesiapan fisik, memantau performa, dan mencegah cedera, yang juga bisa dilakukan oleh siapa pun yang gemar bermain sepak bola.

Pre-Competition Medical Assessment: 8 Tahapan Sebelum Bertanding

Menurut dr. Reyner Valiant Tumbelaka, M.Ked.Klin., Sp.OT dari Mayapada Hospital Surabaya, atlet sepak bola biasanya menjalani Pre-Competition Medical Assessment (PCMA), yang mencakup 8 tahapan, mulai dari evaluasi laboratorium, pemeriksaan jantung, Body Composition Analysis, VO2 Max, penilaian ortopedi, pencitraan medis bila diperlukan, functional movement assessment, hingga evaluasi psikologis.

"Pemeriksaan ini bertujuan memetakan kondisi fisik, mencegah cedera, dan memastikan tubuh siap menghadapi beban latihan maupun pertandingan,” terang dr. Reyner.  

Pendampingan Medis Resmi untuk Atlet Persebaya

Rangkaian pemeriksaan tersebut juga diterapkan oleh Mayapada Hospital Surabaya (MHSB) kepada para atlet Persebaya Surabaya sebagai Official Medical Partner melalui layanan Sports Injury Treatment & Performance Center (SITPEC)Pendampingan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari skrining kesehatan dan kebugaran, pencegahan cedera, penanganan, rehabilitasi, hingga program pengembalian performa agar siap menjalani kompetisi.

Skrining Mandiri Sebelum Berolahraga: PAR-Q+

Meski PCMA umumnya dilakukan atlet profesional, masyarakat yang gemar bermain sepak bola atau  futsal juga perlu memahami batas kemampuan tubuh sebelum berolahraga.

"Masyarakat dapat melakukan skrining mandiri menggunakan Physical Activity Readiness Questionnaire (PAR-Q+) yang terdiri dari 7 pertanyaan, terkait riwayat penyakit jantung atau hipertensi, nyeri dada saat beraktivitas, riwayat pusing atau kehilangan kesadaran, penyakit kronis, penggunaan obat-obatan tertentu, gangguan pada tulang, sendi, otot, ligamen, atau tendon, serta anjuran dokter untuk berolahraga di bawah supervisi medis. Jika terdapat salah satu kondisi tersebut, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, agar jenis dan intensitas latihan dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh," ujar dr. Reyner.

Baca juga: Teknologi Robotik dalam Ortopedi, Inovasi Baru untuk Operasi Lutut yang Lebih Nyaman

Cara Menghitung Intensitas Latihan yang Aman

Untuk memastikan intensitas latihan sesuai kemampuan tubuh, dr. Reyner menyarankan menghitung Denyut Nadi Maksimal (DNM) dengan rumus 220 dikurangi usia.

“Misalnya, pada usia 40 tahun, DNM sebesar 180 denyut per menit. Intensitas ringan berada pada 57–63% DNM (zona 1–2), sedang 64–76% DNM (zona 3), dan berat 77–99% DNM (zona 4–5),” jelas dr. Reyner.

Intensitas latihan juga dapat dikenali melalui Talk Test.

“Apabila masih dapat berbicara dengan lancar saat berolahraga, berarti intensitasnya masih ringan. Jika hanya mampu mengucapkan beberapa kata, berarti sudah memasuki intensitas sedang. Namun, jika sampai terengah-engah dan sulit berbicara, berarti intensitasnya sudah berat,” tambah dr. Reyner.

VO2 Max: Mengukur Kapasitas Tubuh Menggunakan Oksigen

Tak hanya itu, kapasitas tubuh juga dapat dinilai melalui pemeriksaan VO2 Max untuk menilai kemampuan jantung memasok oksigen ke otot, sekaligus menjadi dasar dalam menyusun program latihan yang efektif.  dr. Taufan Favian Reyhan, Sp.KO dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan menjelaskan,

"VO2 Max umumnya diukur menggunakan treadmill dengan intensitas yang meningkat secara bertahap. Selama tes, peserta mengenakan masker khusus dan alat pemantau detak jantung untuk mengukur kemampuan tubuh menggunakan oksigen. Hasilnya dinyatakan dalam satuan mL/kg/menit. Semakin tinggi nilai VO2 Max, semakin baik tingkat kebugaran seseorang. Namun, tidak ada nilai yang ideal karena setiap individu memiliki kondisi fisik yang berbeda.”'

Jika Cedera Sudah Terjadi, Robotic Total Knee Replacement (TKR) Sebagai Solusi Lanjutan

Pendekatan yang menyeluruh menjadi kunci dalam pencegahan cedera, peningkatan performa, dan pemulihan olahraga yang optimal. SITPEC Mayapada Hospital menghadirkan layanan olahraga dan kebugaran yang komprehensif mulai dari skrining sebelum berolahraga, pencegahan dan penanganan cedera, rehabilitasi pasca cedera maupun pascaoperasi, hingga program peningkatan performa, didukung tim dokter multidisiplin dan terintegrasi dengan Orthopedic Center untuk penanganan lanjutan, termasuk prosedur Total Knee Replacement (TKR) dengan teknologi robotik VELYS™ Robotic-Assisted Solution serta protokol Enhanced Recovery After Surgery (ERAS®) untuk pemulihan yang lebih cepat dan optimal.

Kenali tubuh Anda, Cegah Cedera Sejak Dini!

Memahami batas kemampuan tubuh bukan hanya untuk atlet profesional, siapapun yang gemar berolahraga dapat menerapkan prinsip yang sama untuk tampil optimal sekaligus mencegah cedera.

Info lebih lanjut:

  • Call Center 150770
  • WhatsApp 0817 17 150770 (Chat Only)
  • Booking via Aplikasi MyCare

Selanjutnya: Cedera ACL Bisa Ganggu Aktivitas hingga Karier, Penanganan Tepat Jadi Kunci Pulih Optimal

tags :

Sitpec Sport Injury Clinic Mayapada Hospital Surabaya Mayapada Hospital Jakarta Selatan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga