Ablasi Jantung 3D Mampu Tingkatkan Kualitas Hidup Pasien Aritmia

...

Aritmia | Ablasi Jantung | Ablasi Jantung 3D | Irama Jantung

Gangguan irama pada detak jantung atau yang dapat disebut aritmia dapat mengganggu rutinitas dan aktivitas sehari-hari. Salah satu kasus aritmia terjadi pada seorang wanita berusia 29 tahun di Surabaya, Jawa Timur.

Pasien merasakan beberapa keluhan seperti rasa tidak nyaman di dada tengah dan sensasi berdebar-debar yang meningkat saat melakukan aktivitas fisik berat di beberapa bulan terakhir.

Khawatir akan kesehatan jantungnya, ia memeriksakan kesehatannya ke Mayapada Hospital Surabaya (MHSB) dan mendapatkan penanganan dari salah satu Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Aritmia, dr. Rerdin Julario, Sp.JP (K).

Serangkaian pemeriksaan jantung dilakukan, termasuk Elektrokardiogram (EKG) dan pemantauan jantung (Holter Monitor) selama 24 jam hingga mendapatkan hasil bahwa pasien didiagnosis mengalami aritmia Kontraksi Ventrikel Prematur atau Premature Ventricular Contraction (PVC) dengan irama jantung yang tidak teratur dan cenderung cepat.

Premature Ventricular Contraction (PVC) adalah ketidaknormalan dari detak jantung yang seharusnya tidak ada atau menjadi tidak teratur, kadang kala menimbulkan detak jantung yang loncat.

Pada kasus pasien ini, dr. Rerdin Julario, Sp.JP (K) menjelaskan, “Tindakan medis lebih lanjut diperlukan ketika aritmia PVC membawa dampak negatif pada kesehatan jantung dan aktivitas sehari-hari, bahkan mengganggu kualitas hidup."

Mengenal tindakan ablasi jantung 3D 

Melihat kasus pasien, tindakan ablasi tiga dimensi (3D) dapat dilakukan sebagai solusi untuk mengatasi PVC yang dialami pasien.

"Tindakan ablasi 3D merupakan langkah lebih lanjut dalam penanganan PVC untuk memperbaiki sinyal listrik yang tidak normal dan mengembalikan irama jantung sehingga normal kembali," ujar dr. Rerdin Julario, Sp.JP (K).

Sebelum tindakan ablasi 3D dilakukan, pemetaan struktur dan aliran listrik dalam jantung secara akurat dilakukan melalui pencitraan tiga dimensi. Kemudian, ablasi dilakukan dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah hingga mencapai area jantung yang bermasalah.

Kateter ini memiliki penghantar listrik (elektroda) yang merekam sinyal listrik jantung dan memberikan energi untuk mempengaruhi jaringan yang bermasalah. Dalam kasus PVC, energi digunakan untuk mengganggu jalur sinyal listrik sehingga dapat memperbaiki irama jantung.

Ablasi 3D pasien pun berhasil dilakukan pada 12 Agustus 2023 dan ritme jantung pasien dipantau secara ketat untuk memastikan detak jantung kembali normal serta tidak ada komplikasi yang muncul pascatindakan.

dr. Rerdin Julario, Sp.JP (K) yang memiliki jadwal praktik rutin di Mayapada Hospital Surabaya ini menceritakan bahwa pemantauan dilakukan dengan pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) yang memperlihatkan hasil detak jantung sudah kembali normal.

Saat ini, pasien berada dalam tahap pemulihan dan ia tidak merasakan keluhan dalam beraktivitas. “Keluhan awal yang pasien rasakan seperti rasa tidak nyaman di dada dan sensasi berdebar-debar saat beraktivitas telah berkurang secara signifikan. Hal ini menandakan tindakan ablasi 3D pada pasien berdampak pada peningkatan kualitas hidup pasien,” kata dr. Rerdin Julario, Sp.JP (K).

Segera konsultasikan ke dokter spesialis jantung kami bila mengalami gangguan jantung. Buat janji melalui  Call Center 150770.

Direview oleh:

dr. Rerdin Julario, Sp.JP (K)
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Konsultan Aritmia
Mayapada Hospital Surabaya (MHSB)

Lihat jadwal praktik di sini

tags :

Cardiovascular Center Penyakit Jantung Koroner Spesialis Jantung Dan Pembuluh Darah Cabg