Mengetahui Penyakit Autoimun Sindroma Guillain-Barre dan Peran Terapi Plasmapheresis

...

Penyakit Autoimun | Sindroma Guillain-Barre | Peran Terapi Plasmapheresis

Belakangan ini istilah gangguan autoimun sudah tidak asing lagi terdengar di masyarakat. Gangguan autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya bertugas melindungi tubuh dari organisme (bakteri, virus) asing malah berbalik menyerang sel-sel tubuh yang sehat.

Gangguan autoimun dapat memengaruhi hampir setiap organ dan sistem tubuh, termasuk sistem saraf. Salah satu gangguan autoimun yang menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian adalah Sindroma Guillain-Barre.

Sindroma Guillain-Barre (SGB) adalah suatu kelainan langka ketika sistem kekebalan tubuh menyerang dan mengakibatkan kerusakan pada sistem saraf sendiri. Penyebab pasti dari sindroma Guillain-Barre masih belum diketahui.

Namun kebanyakan pasien SGB mengeluhkan mengalami gejala infeksi beberapa minggu sebelumnya. Infeksi tersebut dapat berupa infeksi Covid, infeksi saluran pernapasan, atau infeksi saluran pencernaan.

Pada kasus yang jarang, sindroma Guillain-Barre juga dapat terjadi pasca tindakan pembedahan maupun vaksinasi.

Gejala Sindroma Guillain-Barre

Gejala awal Sindroma Guillain-Barre yang timbul biasanya ditandai dengan kelemahan dan kesemutan pada tangan dan kaki yang menyebar ke tubuh bagian atas. Gejala lain dapat berupa:

  • Gangguan keseimbangan atau kesulitan berjalan
  • Gangguan gerakan otot wajah, termasuk berbicara, mengunyah, dan menelan
  • Pandangan ganda atau kesulitan menggerakkan mata
  • Gangguan berkemih dan buang air besar
  • Gangguan / kesulitan bernafas

Penderita Sindroma Guillain-Barre biasanya mengalami perburukan gejala paling signifikan dalam waktu kurang lebih 2 minggu setelah gejala timbul. Kasus Sindroma Guillain-Barre berat merupakan suatu kegawatdaruratan medis yang dapat mengancam nyawa dan memerlukan rawat inap serta penanganan intensif.

Segera cari pertolongan medis apabila terdapat tanda atau gejala berikut:

  • Kesemutan atau kelemahan yang menyebar cepat dari ujung jari ke seluruh tubuh 
  • Kesulitan bernapas ketika berbaring, dan tersedak

Semakin cepat penanganan yang tepat diberikan maka harapan kesembuhannya akan semakin baik.

Diagnosis Sindroma Guillain-Barre

Pada tahap awal Sindroma Guillain-Barre cenderung sulit didiagnosis karena tanda dan gejalanya menyerupai beberapa gangguan neurologis lain dan dapat bervariasi antar penderita. Dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesa), penelusuran riwayat Kesehatan, serta pemeriksaan fisik dan neurologis.

Selain itu, dokter juga akan meminta satu atau beberapa pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Pungsi lumbal atau spinal tap, adalah prosedur pengambilan cairan tulang belakang dan otak untuk selanjutnya diperiksa di laboratorium.
     
  • Elektromiografi (EMG) dan pemeriksaan konduksi saraf (NCS), yakni prosedur pemeriksaan menggunakan elektroda yang ditempatkan pada otot atau kulit untuk menilai aktivitas listrik dan reaksi otot.

Pengobatan Sindroma Guillain-Barre

Sampai saat ini belum ada pengobatan yang spesifik untuk Sindroma Guillain-Barre. Namun beberapa pilihan terapi dapat mempercepat pemulihan dan mengurangi keparahan gejala, antara lain:

  • Terapi immunoglobulin, dengan memasukkan antibodi (immunoglobulin) melalui pembuluh darah (intravena) dengan tujuan menghentikan antibodi autoimun dan meredakan peradangan berlebihan yang dapat merusak jaringan saraf dan tubuh.
     
  • Pertukaran plasma terapeutik (plasmapheresis), dengan mengeluarkan dan mengganti komponen plasma dalam darah pasien dengan menggunakan mesin plasmapheresis dengan tujuan menghilangkan beberapa antibodi autoimun yang terdapat di dalam plasma darah.

Kasus pasien Sindroma Guillain-Barre ​​​​​​​di Bandung

Mayapada Hospital Bandung (MHBD) melalui salah satu pusat layanan unggulannya yakni Tahir Neuroscience Center terus mengembangkan pelayanan saraf yang komprehensif dan terintegrasi untuk memaksimalkan keselamatan pasien dan hasil pengobatan yang lebih baik. 

Salah satu keberhasilan yang dilakukan adalah dengan menangani kasus Sindroma Guillain-Barre yang menimpa seorang perempuan berusia 26 tahun. Pasien datang dengan keluhan lumpuh total mulai dari leher ke bawah sebelum akhirnya menjalani rawat inap di Mayapada Hospital Bandung (MHBD). 

Tim dokter Mayapada Hospital Bandung (MHBD) yang terdiri dari dokter spesialis neurologi dr. Maria Octaviany, Sp.N; dokter spesialis anestesi konsultan perawatan intensif dr. Immanuel Wiraatmaja, Sp.An-KIC, MMRS; dokter spesialis penyakit dalam dr. Marita Restie Tiara, Sp.PD; dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Novita Setiawan Liem, Sp.JP, MHKes, MM; dokter spesialis gizi klinik dr. L. Arif Firiandri Yulius (A.AN), Sp.GK, AIFO-K; dan dokter spesialis rehabilitasi medik dr. Indri Listyorini, Sp.KFR, FIPM (USG), AIFO-K kemudian berkolaborasi dalam penanganan pasien. 

Tim dokter juga memberikan terapi plasmapheresis untuk membersihkan antibodi autoimun yang menyerang sistem saraf dari tubuh pasien. Setelah menjalani perawatan intensif selama 32 hari, pada 5 Desember 2023 pasien akhirnya bisa pulang kembali ke rumah dengan kekuatan otot yang jauh membaik dan melanjutkan fisioterapi untuk melatih kembali otot-otot yang sempat kaku. 

Meskipun kebanyakan penderita dapat sembuh tanpa gejala sisa, proses pemulihan pada sindroma Guillain-Barre dapat berlangsung cukup lama dan bervariasi antar penderita. Oleh karenanya, penanganan yang komprehensif dan terintegrasi serta dukungan orang-orang terdekat sangat diperlukan.

Informasi lebih lanjut atau ingin konsultasi ke dokter spesialis kami, hubungi Call Center 150770

Direview oleh:

tags :

Autoimmune Center Tahir Neuroscience Center