Mana Interval Menyusui Terbaik pada Bayi Baru Lahir: On Demand atau Terjadwal Rutin?

...

Di praktik sehari-sehari sebagai dokter anak, saya sering mendapat cerita dari ibu-ibu yang merawat bayinya di rumah yang baru dilahirkan. “Dok, bayi saya sepertinya menyusui sering sekali, malah hampir tiap 1 jam.” Juga sebaliknya, “Dok, anak saya tidur melulu, disusuin hanya 4-5 jam sekali.”

Keduanya, setelah diperiksa, menunjukkan kenaikkan berat badan bayi yang tidak diharapkan. Tentunya sebagai ibu akan bertanya-tanya, sebaiknya bayinya disusui berdasar interval waktu yang terjadwal rutin atau berdasar kebutuhan/ on demand?

Lihat perbedaannya:

  • Interval On Demand adalah ibu menyusui bila bayi dijumpai ‘tanda-tanda’ lapar sesuai kebutuhan si bayi tanpa memandang/ tergantung waktu.
     
  • Interval Terjadwal Rutin berarti sebaliknya, si ibu menyusui  dengan interval konstan tanpa memandang tanda-tanda lapar si bayi. Bila sudah memenuhi interval waktu sekian lama, si ibu akan mencoba mulai menyusui.

Sebelum menjawab mana yang terbaik, ada baiknya kita melihat filosofi dan sejarah interval menyusui bayi,  kekurangan masing-masing cara tersebut, atau adakah pendekatan alternatif lainnya. 

Praktek interval menyusui ini  sudah diperdebatkan sejak lama sampai sekarang. Ada evolusi filosofinya. Filosofi pertama muncul pada awal abad 19 adalah filosofi perilaku /’Clock feeding’ yang mempercayai bahwa perilaku dibentuk oleh lingkungan. Bila mampu mengontrol faktor lingkungan maka akan membentuk anak-anak yang sempurna.

Aliran ini seiring dengan trend pada wanita yang timbul di masa itu,’ berambut pendek, ber-rok pendek, alat kontrasepsi, menyusui bayi dengan botol menggunakan susu formula yang kelamaan dikenal secara praktis, menyusui berdasar jadwal pemberian minum atau ‘Clock Feeding.’

Saat itu jadwal menyusui yang baik adalah per 4 jam. Bayi yang menangis karena lapar sebelum 4 jam, dibiarkan menangis karena belum waktunya diberi minum. Yang dilihat adalah waktu/jam, sentris di luar yaitu bukan bayinya.

Bayi akan menyesuaikan dengan jadwal. Waktu menyusui ditentukan ketat berdasar interval waktu yang konstan. Jam yang menentukan kapan dan seberapa sering si bayi minum. Melihat tanda-tanda lapar bayi dianggap tidak penting, karena waktu minum selalu bisa diprediksi.

Filosofi kedua muncul dua dekade kemudian adalah Neo -primitiv/ Child Led Feeding( cue feeding, demand feeding, response feeding, ad lib)  berlawanan dengan filosofi pertama, filosofi ini sentris di dalam yaitu pada bayi, kembali kepada ‘ cara primitif’ merawat bayi/anak oleh induknya, pusat universe ada pada si bayi. Si induk harus memperhatikan terus menerus tanda-tanda bila bayi tidak nyaman atau mungkin lapar.

Bila si bayi terus-terusan menangis, yang disalahkan adalah ibunya karena tidak bisa memberikan kebutuhan/attachment kepada si bayi.  

Waktu minum bayi ditentukan ketat hanya berdasar adanya tanda-tanda atau clue bayi lapar (seperti suara sucking menghisap, tangan bergerak mendekati ke arah mulut, menangis dan rewel). Pendekatan ini menganut bahwa waktu  menyusui bayi adalah acak, tidak bisa diprediksi, bisa per 3 jam lalu 1 jam diikuti 20 menit kemudian, seterusnya 4 jam kemudian atau bahkan lebih.

Bisa saja 5 kluster/ kelompok-kelompok waktu pendek pemberian minum yang singkat dalam total 3 jam, diikuti interval jam pemberian minumnya yang berjarak  lama. Dengan kata lain, jarak antar pemberian minum tidak dianggap penting, karena teori ini bersikeras bahwa orangtua yang harus mengenal dan melihat tanda-tanda lapar si bayi, bukan interval waktu pemberian minum. Lama kelamaan, filosofi kedua ini pun dipertanyakan dan mendapat argumen. Keduanya merupakan pendekatan yang ekstrim dalam merawat bayi.  


Kelemahan dari pendekatan child-Led feeding/ cue feeding :

  1. Child-Led feeding berdasar pada asumsi tanda-tanda lapar bayi selalu reliable/ dapat dipercaya. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Ini yang menjadi alasan utama kenapa pendekatan ini berbahaya.

    Bayi-bayi yang lebih lemah, sakit, atau bayi yang lebih sering tidur mungkin saja tidak memberikan sinyal tanda-tanda lapar selama 4 jam, 5 jam, atau 6 jam. Sehingga menyebabkan bayi berisiko tidak mendapat nutrisi yang semestinya karena tanda-tanda lapar bayi tidak muncul, bayi tidak diberi minum.
     
  2. Mengandalkan tanda-tanda lapar bayi bisa menyebabkan dehidrasi pada bayi, kenaikkan berat badan bayi yang tidak optimal, gagal tumbuh, frustasi baik ibu atau bayinya.
     
  3. Bila tanda lapar bayi konsisten kurang 2 jam, bisa menyebabkan kelelahan si ibu. Kelelahan ibu sudah diketahui sebagai alasan utama ibu berhenti memberikan ASI.
     
  4. Konsekuensi lainnya, bayi mudah rewel, perilaku waktu tidur jadi sulit diprediksi, siklus tidur/bangun menjadi tidak stabil yang nantinya mempengaruhi menyusui bayi.

​​​​Sedangkan kelemahan pendekatan Clock feeding, bila didasarkan waktu yang kontan, akan mengabaikan tanda lapar si bayi dengan mengasumsikan tiap pemberian minum sebelumnya sudah berhasil/ membuat kenyang si bayi. Pendekatan ini juga tidak menghitung adanya ‘growth spurth’ di mana dalam sehari atau lebih bayi bisa membutuhkan kenaikkan minum dari biasanya.


Jadi sebaiknya pakai pendekatan mana yang terbaik?

Yang terbaik adalah memakai pendekatan yang berada di tengah-tengah. Di Barat, istilahnya adalah Parent Direct Feeding (PDF). Pendekatan yang memakai variable tanda -tanda lapar bayi dan variable interval waktu yang konstan.

Kedua variabel tersebut dipandang sebagai sarana/ tool yang dibutuhkan. Dengan pendekatan ini, bayi akan diberi minum bila lapar, tetapi batas interval waktu akan memberi batas proteksi sehingga orang tua tidak memberikan minum si bayi terlalu sering seperti tiap 1 jam, atau terlalu jarang seperti tiap 4-5 jam. Sehingga memberi kebebasan bagi si ibu menggunakan variabel tanda lapar bila dibutuhkan dan interval waktu bila sesuai. Jarak waktu yang dipakai biasanya 2,5 - 3 jam, tapi tidak sampai 4 jam.


Beberapa keuntungan pendekatan Parent Direct Feeding (PDF) :

  1. Dapat mengenal dan menilai dua potensi masalah pada pemberian minum bayi:   
    a. Bayi yang diberikan ASI yang intervalnya singkat, mungkin tidak mendapat nutrisi yang cukup tiap kali minum sehingga menyadarkan orangtua untuk mengambil langkah-langkah selanjutnya.

    b. Bila tanda-tanda lapar tidak muncul, panduan interval waktu dapat digunakan untuk memastikan tidak melewati jarak menyusui yang terlalu pendek atau panjang. Berperan sebagai proteksi cadangan untuk bayi-bayi yang lebih lemah atau sakit di mana tidak dapat menangis secara efektif. 
     
  2. Ketika tanda-tanda lapar muncul, interval waktu dapat dipakai sebagai sarana konfirmasi tanda-tanda lapar tersebut benar bahwa bayi lapar. Strategi ini membawa struktur/ tatanan kepada bayi sekaligus batas aman, tetapi juga fleksibilitas terhadap ibu dengan adanya kebebasan merespon.

Sebagai catatan terakhir, dalam hal memilih terapan praktik-praktik di bidang kesehatan anak di kehidupan sehari-hari, seorang ibu/ orangtua perlu mengetahui informasi secara utuh, jangan sepotong-sepotong.   

Ada kalanya di zaman informasi ini, pendekatan yang sebenarnya sudah tidak relevan, tapi dituang kembali secara rasional, dan masuk akal sehingga dianggap terbaru dan terbaik padahal tidak. Untuk itu, konsultasi oleh ahli di bidangnya, yang menguasai di bidangnya akan sangat membantu mendapatkan praktik-praktik/ pengetahuan kesehatan anak yang terbaik dan efisien. (Foto di atas hanya ilustrasi)  

Ditulis oleh:
dr. Yose Muliawan Pangestu, Sp.A 
Dokter Spesialis Anak
Mayapada Hospital Tangerang (MHTG)

Lihat jadwal praktiknya di sini

tags :

Spesialis Anak Pediatri Laktasi