Sering Mengalami Nyeri Hebat saat Haid? Hati-hati Endometriosis

...

Siapa sih yang tidak pernah mengalami nyeri saat haid? Semua wanita yang sudah haid paling tidak pernah mengalami nyeri atau kram perut saat datang bulan. 

Nyeri haid sebetulnya wajar, karena saat haid, dinding dalam rahim sedang meluruh. Namun, kaum wanita perlu waspada ketika nyeri perut saat haid sampai mengganggu aktivitas sehari-sehari dan sampai membutuhkan obat pereda nyeri. Kondisi seperti itu bisa menjadi tanda-tanda penyakit organ reproduksi atau penyakit kandungan yang disebut endometriosis.


Apa sih endometriosis itu?

Endometrium adalah lapisan dalam rahim Anda. Jaringan ini luruh selama periode menstruasi. Saat wanita mengalami menstruasi, lapisan-lapisan ini terlepas dari dinding rahim dan keluar melalui vagina.

Menurut dr. Pojianto, Sp.OG, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dari Mayapada Hospital Tangerang (MHTG), Endometriosis adalah suatu kondisi di mana jaringan yang mirip dengan lapisan dinding dalam rahim tumbuh di bagian lain dari tubuh Anda.

Ketika jaringan ini tumbuh di organ-organ lain seperti di indung telur, usus, kandung kemih dan saluran kencing, atau bahkan di dada, dapat menyebabkan gejala yang memengaruhi kualitas hidup pasien. 

Endometriosis biasanya terlihat seperti bercak-bercak kemerahan yang menempel di organ lain di luar rahim. Jaringan ini sensitif terhadap hormon dan dapat meradang selama siklus menstruasi. 

Endometriosis dapat menyebabkan kista di ovarium, bercak di permukaan organ dan juga bisa menempel lebih dalam (deep infiltrated), perlengketan dengan organ lain, dan menyebabkan jaringan parut di dalam tubuh. 

“Endometriosis juga sering menjadi penyebab infertilitas atau sulit hamil pada wanita,” kata dr. Pojianto, Sp.OG.


Apa saja gejala endometriosis?

Ada banyak gejala yang berhubungan dengan endometriosis. Gejala utamanya adalah rasa sakit atau nyeri. Biasanya dapat dirasakan di perut, daerah panggul, dan punggung bagian bawah. Meskipun endometriosis adalah kondisi umum, tidak semua orang akan mengalami gejala.

Dokter Setyo Hermanto, Sp.OG, Dokter Kebidanan dan Kandungan dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS) menjelaskan, “Kadang-kadang, seorang pasien wanita dapat menderita endometriosis tanpa gejala dan tidak diketahui sampai ditemukan saat pemeriksaan lain atau saat dilakukan pemeriksaan infertilitas/sulit hamil. Ternyata mengalami endometriosis, tetapi masih stadium awal. Penyakit ini, 60-80% merupakan penyebab sulit hamil pada wanita sehingga perlu penanganan yang tepat.”

Baca juga: Apakah Normal Menstruasi Setiap 2 Bulan Sekali?


Gejala endometriosis lainnya bisa berupa:

  • Nyeri haid yang hebat.
  • Nyeri perut atau nyeri punggung selama haid atau di antara siklus haid.
  • Nyeri saat berhubungan seksual.
  • Pendarahan hebat selama haid atau bercak-bercak (pendarahan ringan, spotting) di antara siklus haid.
  • Nyeri saat buang air besar.
  • Infertilitas atau sulit hamil.


Lalu apa yang harus dilakukan apabila mengalami gejala endometriosis?

Dijelaskan oleh dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG, KFER, Dokter Kebidanan dan Kandungan Subspesialis Fertilitas dan Hormon Reproduksi dari Mayapada Hospital Kuningan (MHKN), Endometriosis adalah penyakit yang sangat mengganggu kualitas hidup, menyebabkan nyeri berkepanjangan, gangguan siklus haid, dan bisa menyebabkan infertilitas sehingga wanita akan sulit hamil.

“Dan harus diketahui, bahwa endometriosis ini bisa dialami oleh wanita mulai dari usia remaja sampai yang sudah menopause. Jadi penting sekali untuk segera check-up ke dokter apabila merasakan gejala,” kata dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG, KFER, yang juga ahli bedah laparoskopi.

Lebih lanjut, beliau mengatakan, “Dokter nanti akan melakukan pemeriksaan kandungan dan USG transvaginal yang tentunya tidak sakit ya, mungkin hanya tidak nyaman, sehingga pasien tidak perlu khawatir atau takut.” 

Setelah benar terdiagnosis endometriosis, terapinya bisa dengan obat hormonal dan pada beberapa kasus harus dilakukan operasi atau pembedahan.”

“Untuk pasien yang takut operasi, sekarang bisa dilakukan dengan teknik laparoskopi (minimal invasive). Laparoskopi menggunakan bantuan laparoskop — batang teleskopik tipis dengan kamera di ujungnya — untuk melihat ke dalam rongga perut dan panggul tanpa membukanya sepenuhnya,” ujar dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG, KFER.

Operasi laparoskopi hanya membutuhkan sayatan kecil yang biasanya berukuran 0.5 cm-1 cm. Keuntungannya, pasien merasakan nyeri yang lebih minimal setelah operasi, pulih lebih cepat, dan bisa kembali ke aktivitas normal dengan lebih cepat juga.

Jadi, jangan ragu untuk segera ke dokter apabila mengalami gejala-gejala yang mengarah ke endometriosis. Semakin cepat terdiagnosis dan ditangani dengan baik oleh dokter ahli, semakin baik untuk kesehatan Anda

Mayapada Hospital Obstetrics and Gynecology Center menawarkan pelayanan komprehensif untuk wanita segala usia, mulai dari kesehatan reproduksi, kehamilan risiko tinggi, persalinan, gangguan hormon dan fertilitas, tumor dan kanker kandungan, pilihan tindakan bedah, hingga perawatan menopause. Informasi lebih lanjut hubungi 150770.

Baca juga: Haid Tidak teratur dan Jerawat Membandel? Dicek yuk…

 

Narasumber:

dr. Pojianto, Sp.OG
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dari
Mayapada Hospital Tangerang (MHTG)

dr. Setyo Hermanto, Sp.OG
Dokter Kebidanan dan Kandungan
Ahli Bedah Laparoskopi
Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS)

dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG KFER
Dokter Kebidanan dan Kandungan Konsultan
Subspesialis Fertilitas dan Hormon Reproduksi
Ahli Bedah Laparoskopi
Mayapada Hospital Kuningan (MHKN)

 

tags :

Obstetrics & Gynecology Center Spesialis Kebidanan Dan Kandungan Endometriosis