Cegah Penyakit Parkinson di Masa Tua

...

Meski dikatakan sebagai penyakit idiopatik, Penyakit Parkinson dapat muncul diduga karena malas bergerak atau berolahraga. Bagaimana bisa? Apa kaitannya, ya? Simak penjelasan dokter spesialis saraf dr. Paulin Thiomas Ulita, M.Sc, Sp. S.

Dalam dunia medis, Penyakit Parkinson sangat erat kaitannya dengan kondisi tubuh yang mengalami penuaan. Hal ini terjadi akibat degenerasi sel saraf (neurodegenerative) pada otak tengah yang berfungsi mengatur pergerakan tubuh. Sehingga, efek yang paling menonjol nampak pada penderitanya adalah tremor atau gemetar yang tidak terkontrol. Namun gejala awal tersebut tidak selalu dikaitkan dengan Penyakit Parkinson, bisa saja gejala parkinsonisme.

Agar tidak keliru membedakannya, dinamakan demikian karena gejala parkinsonisme mirip dengan Parkinson, di mana gejalanya berupa Tremor (T) – gemetar; Rigiditas (R) – kekakuan otot; Akinesia (A) – perlambatan gerakan; dan Postural Imbalance (P) – gangguan keseimbangan atau disingkat TRAP.

“Parkinsonism disebut juga sebagai Parkinson sekunder. Itu jelas penyebabnya karena sumbatan pembuluh darah, paling sering oleh stroke, atau ada tumor, trauma karena terbentur hebat di area kepala. Nah kalau Parkinson primer itu kondisi hormon dopamin berkurang sehingga reseptor saraf tidak bisa menghantarkan perintah otak ke otot-otot, jadilah salah satunya tremor,” ujar dr. Paulina yang bertugas di Mayapada Hospital Tangerang.

Lebih singkatnya, Parkinson primer disebabkan berkurangnya jumlah neurotransmiter dopamin di dalam susunan saraf karena bertambahnya usia, genetik, dan faktor lingkungan. Sedangkan Parkinson sekunder disebabkan terhambatnya pengaliran dopamin yang bisa saja disebabkan oleh tumor, stroke, gangguan pembuluh darah dan trauma.

Berkurangnya dopamin akibat penuaan saraf hanya menjadi salah satu dari sekian banyak dugaan penyebab Penyakit Parkinson primer. Penyebab lain diduga karena faktor lingkungan dan genetik. Namun hingga saat ini para peneliti masih terus mengkaji untuk mengerucutkan dugaan-dugaan penyebab pasti Penyakit Parkinson.

Pola makan tidak sehat, tinggi gula, dan tinggi karbohidrat juga bisa menyebabkan produksi dopamin menurun. Termasuk orang yang jarang olahraga dan malas bergerak. Penyalahgunaan obat-obatan seperti kokain dan amfetamin yang melemahkan kemampuan produksi dopamin alami akibat dipaksa berproduksi oleh obat-obatan tersebut juga menjadi dalang seseorang terjangkit Parkinson.

Hingga saat ini belum ada terapi yang dapat menyembuhkan Penyakit Parkinson. Tindakan medis berupa pemberian obat untuk stadium awal hanya bertujuan untuk meringankan gejala agar pasien mendapatkan kembali kualitas hidupnya.

Menurut dr. Paulina, pemberian obat untuk penderita Penyakit Parkinson disesuaikan dengan stadium dan kondisi penyakitnya. Ada obat yang berfungsi untuk menaikkan kadar dopamin, untuk menghemat dopamin. Ada pula obat yang berfungsi memang sebagai pengganti dopamin alami jadi cara kerjanya serupa. Bahkan ada obat yang diresepkan dokter untuk meningkatkan koordinasi kerja ototnya (antikolinergik).

“Obat yang sifatnya menyembuhkan belum ada, pemberian obat yang mengandung hormon dopamin hanya berfungsi untuk meringankan gejala dan memperlambat laju penyakitnya,” lanjut dr. Paulina.

Mengingat penyakit ini bersifat menahun dan berlangsung progresif atau dengan kata lain semakin lama semakin memburuk. Jadi,  jika sudah naik level dokter akan menyarankan tindakan medis lainnya. Bagi pasien yang tubuhnya tidak lagi merespon dengan baik obat-obatan tersebut, maka dokter mungkin akan menempuh jalan operasi. Tindakan medis berikutnya yang menjadi pilihan yaitu dengan cara menanam elektroda (implant) di otak tengah (dalam) melalui prosedur bedah bernama Deep Brain Stimulation (DBS).

“Setelah pemberian obat jangka panjang, maka obat dapat menjadi kurang efektif bahkan muncul efek samping. Operasi DBS memungkinkan sel dopamin dapat dirangsang untuk memproduksi dopamin dan bekerja optimal kembali sehingga gejala Penyakit Parkinson dapat diatasi dan dosis obat juga bisa dikurangi,” papar dr. Paulina.

Jadi, bagaimana mengurangi risiko Penyakit Parkinson di masa tua? dr. Paulina menegaskan, satu-satunya upaya adalah mencegahnya sedini mungkin dengan menerapkan pola hidup sehat di masa muda. 

Pencegahan Penyakit Parkinson

Bila usia Anda masih 20-40 tahun, pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan :

  1. Menghentikan kebiasaan merokok.
  2. Jaga berat badan.
  3. Mulailah secara rutin beraktivitas fisik.
  4. Olahraga teratur sebanyak 3-4 kali dalam seminggu, setiap kalinya dilakukan minimal 30 menit. Jenis olahraga yang dapat dilakukan misalnya lari, jalan cepat, dan bersepeda.
  5. Lakukan cek kesehatan rutin setidaknya 3 tahun sekali.
  6. Hindari paparan pestisida dan waspada pada pencemaran logam berat.

Bila usia Anda berusia 50-an, pencegahan saat ini harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan Anda terkini.

  1. Lakukan cek kesehatan rutin. Jika muncul gejala awalnya segeralah ke dokter dan tanyakan penanganan medis yang dapat dilakukan.
  2. Beberapa orang mungkin membutuhkan obat yang mengencerkan darah untuk mencegah terjadinya sumbatan.
  3. Di usia ini beberapa dari Anda sudah mulai mengalami keluhan nyeri sendi, terutama lutut. Oleh karena itu, pilihlah jenis olahraga yang tepat. (Foto hanya ilustrasi)

Konsultan:
dr. Paulina Thiomas Ulita, M.Sc, Sp.S
Dokter Spesialis Neurologi
Mayapada Hospital Tangerang (MHTG)

Lihat jadwal praktiknya di sini

tags :

Parkinson Neurologi Spesialis Saraf